[in Bahasa Indonesia] Episode 5: Wedding Preparation in Jakarta (0-1 month before)

Time is approaching.. dan gue super panik karena ternyata… banyak banget detail printilan yang harus diurusin. Not to mention gue harus ngurusin ngisi apartment dan pindahan. Guilty as I am, banyak PR yang ke-pending dari Episode 4.

  • Finalize Decoration (Church): koordinasi cuma dilakukan via WhatsApp aja dengan seksi dekorasi gereja.
  • Finalize Decoration (Reception): koordinasi cuma dilakukan via WhatsApp (vendor kirim gambar desain, trus dikomentarin, revisi, sampe akhirnya acc)
  • Finalize Wedding Bouquet: akhirnya disempetin ketemu sama Bu Atrina di H-10 sebelum TM, demiii dapet buket yang bagus. Dan ternyata emang bagus buangeeeeeettt, sesuai keinginan. 😀
  • Fitting Wedding Gown: fitting terakhir gw lakukan 3 minggu sebelum hari H, untuk finalisasi teknis pelaksanaan hari H (apa aja yang perlu dibawain, kapan pengambilan, asisten buat bantuin pake baju ke mana jam berapa).
  • Final Fitting Groom’s Tux: dan you know what?? Jasnya laki gw akhirnya baru diantar ke hotel malam sebelum hari H.. (can you imagine how panicked I was??)
  • Final Fitting Mothers’ and Sisters’ Gowns: (despite all plans to do this as early as possible) H-3
  • Finalize Lunch Box (Church): jauh-jauh hari udah DP ke satu vendor, tapi karena si vendor ga responsif, akhirnya last minute gw memutuskan buat ganti vendor (Nasi Kotak Kotak), dan baru dibayar lunasin H-3. So not me, but that’s the truth.
  • Booking Accommodations for Family Members: only applicable to my husband – dan gw serahkan ini ke dia, karena gw udah kepusingan mikirin yang lain
  • Sending Out Invitations: langsung gw lakukan begitu selesai sangjit (karena emang secara adat baru boleh bagi undangan setelah itu)
  • Preparing Tea Ceremony Souvenirs: belanja-belanja (online) gw lakukan dari 1 bulan sebelum hari H. Niatnya pengen nyiapin sendiri, tapi ujung-ujungnya jadi minta tolong WO aja.
  • Ensuring Invitations are Received and Souvenirs are Delivered: ngikutin cara laki gw: WhatsApp-in lagi undangannya ke tiap orang yang diundang. Dan thank God vendor souvenir gw super reliable – H-2 minggu souvenirnya udah sampe semua (ke kantor WO), dalam kondisi sudah dipasangin thank you card. 🙂
  • Technical Meeting with All Vendors: berhubung TM cuma bisa dilakukan pas hari kerja, akhirnya baru terlaksana H-10 gara-gara gw lagi hectic banget di kantor. Lika-liku wedding preparation orang kantoran.
  • Reminder all PIC (Family): untungnya gw terlahir di keluarga besar yang udah biasa diberdayakan untuk saling bantu.. jadi smua spupu yang tugas udah sigap. Malah beberapa kali mereka yang inisiatif nanya duluan soal tugas masing-masing.
  • Put A Trust to Your Wedding Organizer: again gw mau bilang gw ga salah pilih WO. Super organized, super sigap dan very helpful. Thanks DePuzzle! 🙂
  • Relaxing, Having a SPA treatment: pengantin yang satu ini terlalu sibuk ngantor sampe ga kepikir buat booking any kind of treatment. Akhirnya last minute gw sempet-sempetin facial di Felize (http://www.instagram.com/felize.beautybar), yang gw pilih karena di sana bisa facial tanpa bikin muka gw yang sensitif ini bengkak merah-merah, dan H-1 gw sempet-sempetin gel meni-pedi di The Nail Shop (tanpa reservasi! untung masih dapet slot), naik ojek pula pp. Hahaha..

That’s it. Sampe H-1 masih kerasa hectic banget sampe akhirnya gw memutuskan buat matiin HP kantor dan ga nyalain laptop sama sekali.

Advertisements

[in Bahasa Indonesia] Episode 4.5: Persiapan Pernikahan ala Chinese Indonesia

Buat yang ga personally kenal gue, sebetulnya keluarga gue itu tipikal Chinese Jakarta yang udah ga terlalu kental tradisinya. Kami masih ngerayain Chinese New Year alias sincia, tapi tradisi lain yang (lumayan) ngerepotin sebenernya udah nggak, karena mayoritas kami juga udah bukan Buddhist. Sooo.. it’s just natural that pas persiapan pernikahan, keluarga gue sebenernya ga terlalu ribet dengan hitungan ini itu. Tapi keluarga calon gue masih, jadi dijalanin aja deh. (Ortu gue tipenya yang: kalo emang hitungannya bener bawa kebaikan kan bagus juga, jadi jalanin aja.)

Ini ga full tradisi juga diikutin, cuma yang penting-pentingnya aja, dan mungkin bisa sedikit kasi clue ke para calon pengantin Chinese lain yang mau ikutin tradisi (karena sejujurnya gue pun super bingung dengan istilah-istilah yang ada sebelum ngalamin sendiri):

  1. Lamaran. Ini kayanya standar sih dan semua adat, even di negara barat, sebelum nikah pasti ada lamaran. Yang membedakan cuma lamarannya sampe mana. Kalo di adat timur, termasuk yang ada di tradisi ini, lamaran ini skalanya ortu cowo ngomong ke ortu cewe (dan kami calon pengantin harus “ngumpet” dulu, ga boleh ikutan ada di ruangan yang sama selama kedua ortu saling bicara). Yang dibicarakan biasanya niatan si cowo untuk menikahi si cewe, tanggal rencana pernikahan (kalau belum sempet dibicarakan sebelumnya), dan apa aja yang ‘diminta’ sama keluarga si cewe in return cewenya ‘diminta’ sama si cowo (ini biasanya ada yang wajib dan nggak, tapi apa yang diminta akan dibawain saat sangjit). Atas nama tradisi, meski calon suami gue udah ngadep ortu gue like way before the wedding day (what other reasons did I have to come to wedding fairs?), lamaran ini tetep dijalankan lagi secara resmi antara 2 keluarga.
  2. Seserahan (sangjit). Kalo seserahan ini tradisi yang identik dengan budaya Indonesia (ga tau di negara Asia yang lain ada atau nggak.. anyone?), tanda penghargaan keluarga cowo akan keluarga, terutama orangtua cewe yang udah membesarkan si cewe. Buat yang masih keturunan Chinese, biasa seserahan ini disebut juga sangjit. Untungnya sekarang ini banyak banget sumber-sumber yang bisa dijadiin referensi (thanks Internet), salah duanya: https://www.weddingku.com/blog/sangjit-a-meaningful-chinese-proposal-tradition dan http://thebridedept.com/tata-cara-prosesi-sangjit/.
  3. Hias kamar ranjang pengantin. Awalnya gue ga tau ini tradisi mana, tapi setelah iseng browsing ternyata hias ranjang pengantin ini adalah tradisi dari China, dan ortu gue sendiri masih ngejalanin tradisi ini, meski sepupu-sepupu gue udah nggak. Nah berhubung filosofi hias ranjang pengantin ini bagus, ya dijalanin juga lah.. jadi biasanya prosesi hias ranjang pengantin ini memang dijalanin 2-3 hari sebelum hari H oleh cewek (bisa nyokap/saudara lain yang lebih tua) yang suami, anak dan cucunya masih hidup. Salah satu referensi yang gue temuin: http://www.chinese-wedding-guide.com/bridal-bed.html.
  4. Hari H. Dibanding nomor 1-3, kayanya nomor 4 ini yang paling banyak diketahui (thanks to Instagram, video same day edit di-upload dimana-mana). Tergantung asal si pengantin, karena even sesama Chinese Indonesia pun bisa beda tradisinya, tapi normalnya seperti ini (yang kami jalanin at least yang kaya gini): pagi-pagi pengantin cowo ngejemput ke rumah pengantin cewe (konon baiknya di malam sebelum hari H, pengantin cowo dan cewe tidak tinggal di bawah satu atap. Ada juga yang bilang, pas hari H, pengantin ga boleh dibiarin ke mana-mana sendirian, alias harus ada yang nemenin. Termasuk pas acara jemput pagi.), makan onde (katanya biar lengket terus sebagai suami-istri), trus baru berangkat bareng ke lokasi acara (dalam hal ini, gereja, untuk pemberkatan).
  5. Pulang ke rumah ortu pengantin cewe. Tradisi yang ini gue baru tau setelah temen gue (cewe) yang tinggal di luar negeri married. Waktu itu, setelah acara hari H, dia ‘pulang’ ke rumah ortu cowo (berhubung rumah mereka sebenernya di luar), dan setelah 3 hari, baru dia pulang ke rumah ortunya sendiri. Konon tradisi ini sebagai simbol bahwa setelah nikah nanti, even si cewe udah ‘diambil’ sama suaminya, dia tetep ga akan lupain ortunya sendiri.

Good luck buat persiapannya! 😀

[in Bahasa Indonesia] Episode 3.5: Persiapan Dokumen untuk Gereja dan Catatan Sipil

Tadinya gue ga merasa perlu buat bikin episode drama yang satu ini, tapi setelah ngejalanin sendiri selama 1 bulan terakhir, disertai drama-drama rentetan berupa gue kena insom gara-gara pusing mikirinnya, terpaksa lah gue bikin post ini. (Katanya sih) harus keep a diary to ourselves buat ngurangin stress persiapan pernikahan (in my case diary-nya in the end gue share ke pembaca blog gue yang jumlahnya cuma seiprit).

Dari sini, gue cuma mau bilang, Indonesia ini bener-bener ribet banget kalo urusan administrasi kependudukan.

Gue dan calon suami gue itu beda agama, dan dari awal pacaran emang kami udah sepakat, bahwa kami akan jalan dengan agama kami masing-masing. Sejauh pacaran dan persiapan nikah, terbukti perbedaan agama itu ga berdampak negatif ke kami. Gue fine-fine aja kalo harus nemenin dia ke kelenteng (gue Katolik, calon suami Budha), dan dia juga oke-oke aja nemenin gue misa di gereja. Juga setelah mencari tahu, ternyata di agama Katolik bisa dilakukan pemberkatan pernikahan meski beda agama (dengan dispensasi Uskup), dan setelah pemberkatan bisa manggil petugas catatan sipil sekalian untuk pengesahan, asalkan minimal salah satu calon pengantin berdomisili di Jakarta.

Untuk pernikahan secara agama, kami tidak ada masalah. Sesuai kesepakatan awal, pernikahan kami akan diberkati dan dicatat dengan cara Katolik. Ikutlah kami pembekalan persiapan perkawinan (dulu namanya Kursus Persiapan Perkawinan/KPP, sekarang Membangun Rumah Tangga/MRT), penyelidikan kanonik, dan permohonan dispensasi ke Uskup. Termasuk di dalamnya penandatanganan surat perjanjian pihak Katolik bahwa anak-anak hasil pernikahan ini nantinya akan dibaptis dan dididik secara Katolik (ini juga sudah kami sepakati saat mulai persiapan pernikahan).

Selesai MRT, barulah kami bergerak mengurus segala tetek bengek dokumen yang sangat merepotkan. Eng ing eng.. ternyata catatan sipil baru mengeluarkan aturan baru bahwa pernikahan beda agama dilarang, jadi ga bisa lagi petugas catatan sipil datang ke gereja setelah pemberkatan kalau pasangan tersebut beda agama. Langsung stress lah gue. (Maklum, gue paling ga suka ngurus yang ribet-ribet kaya begini.) Yang paling menyebalkan dari urusan kenegaraan ini adalah peraturannya berubah-ubah terus dan ga ada sumber yang bisa dipercaya. Sumber A bisa bilang A, tapi tau-tau nanti untuk kasus yang sama, sumber B bilang B. Trus antara kelurahan sama dinas kependudukan sendiri sering ga satu suara.

Akhirnya daripada stress denger omongan dari sana-sini, nyokap mengusulkan buat gue datengin langsung aja kantor catatan sipil. Dianter bonyok (udah macam mau daftar sekolah, tapi gapapa lah), pergilah gue ke kantor catatan sipil DKI Jakarta yang di Jl. S. Parman (seberangnya Central Park). Misinya cuma mencaritau apakah pernikahan beda agama dilarang, dan dokumen apa aja yang sebenernya dibutuhkan buat ngurus catatan sipil (karena sesungguhnya dokumen itu berubah terus). Dikasitau lah sama petugas catatan sipil bahwa catatan sipil ga peduli soal beda agama (meski katanya: pada prinsipnya kan semua agama ga memperbolehkan pernikahan beda agama), kita cukup bawa sertifikat/surat pemberkatan perkawinan dari salah satu agama, dan untuk WNI, pendaftaran catatan sipilnya cuma bisa dilakukan di dinas kependudukan dan catatan sipil (disdukcapil) tingkat kotamadya sesuai domisili salah satu pasangan. (Di disdukcapil DKI itu hanya melayani pencatatan perkawinan untuk kawin campur WNI-WNA aja.)

Part 1: Dokumen Gereja

Dokumen untuk gereja ini sebenernya cukup simple dan jelas. Setelah selesai MRT, kita tinggal dateng ke sekretariat paroki untuk minta checklist dan form-form lainnya untuk dilengkapi. Pas gue ngurus dokumennya nih (Agustus 2018), syarat-syaratnya:

  • Surat pengantar ketua lingkungan (kalau salah satu non Katolik, cukup dari calon yang Katolik)
  • Surat baptis yang sudah diperbarui dalam 6 bulan terakhir, asli (ini juga khusus untuk calon yang Katolik dan Kristen)
  • Copy Kartu Keluarga Katolik (bagi calon yang beragama Katolik)
  • Copy KTP kedua calon pengantin yang masih berlaku
  • 3 lembar pasfoto 4 x 6 cm berdampingan
  • Form data saksi perkawinan di gereja yang sudah dilengkapi (ditandatangani oleh kedua saksi dan dilampirkan copy KTP dan copy surat baptis kedua saksi)

Setelah dokumennya lengkap, langsung diserahkan ke sekretariat paroki. Berikutnya, sekretariat akan langsung menghubungi pastor yang bertanggung jawab untuk pemberkatan perkawinan untuk menjadwal kanonik (dalam kasus gue, gue dikasih nomor HP si pastor untuk menjadwal kanonik langsung ke pastor yang bersangkutan). Berhubung calon suami gue non Katolik, ada tambahan yang harus dibawa saat kanonik untuk pengajuan dispensasi ke Uskup:

  • 2 orang saksi untuk calon non Katolik, syaratnya: bukan keluarga langsung (boleh om/tante atau sepupu) dan mengenal calon dengan baik dan mendalam
  • Copy KTP kedua saksi

Part 2: Dokumen Catatan Sipil

Setelah drama lurahnya calon suami gue ga mau bikinin surat keterangan karena kami beda agama, kami sempet banget selama 1 hari itu putus asa banget, sampe udah ngecek syarat catatan sipil di Singapore untuk jadi option (gampang ternyata, cukup bawa passport ke Registry of Marriage/ROM alias Dinas Catatan Sipil di sana, bayar S$380, trus akta nikahnya dilaporin ke KBRI untuk kemudian dikeluarkan surat pengantar buat balik ke Indonesia). Untungnya nyokap gue cukup berkepala dingin menghadapi ini (padahal biasanya dia juga drama), dan gue tetep ngumpulin syarat-syarat buat lapor ke (urutannya) RT-RW-Lurah-Camat:

  • Surat Pernyataan yang ditandatangani gue dan kedua ortu gue, menyatakan status terakhir gue (kalo cewe pilihannya perawan/janda – OMG *tepok jidat)
  • 3x copy KTP bolak balik (konon kalo ga bolak balik bisa ditolak sama Lurah, padahal baliknya kan sama aja ya semua KTP)
  • 3x copy KK bolak balik (juga)
  • 2x copy KTP ortu bolak balik (juga)
  • Copy Surat Keterangan Pemeriksaan Kesehatan Pranikah yang dikeluarin sama Puskesmas (Ini sempet lumayan bikin gue kesel abis, karena gue udah premarital check up sendiri, dan ngerepotin banget harus nyisihin waktu buat ke puskesmas segala. Akhirnya dengan semangat 45 gue pun membawa hasil check up gue ke Puskesmas, dan cuma dibilangin bahwa mereka bisa keluarin surat keterangan kalau pemeriksaannya dilakukan dalam 30 hari terakhir. Yaudah, gue akhirnya diambil darah untuk dites lab 3 hal dasar aja: HIV, HBsAg, dan Sipilis, plus disuntik vaksin tetanus. Untungnya hasil labnya keluar hanya dalam waktu 1 jam saja, jadi ga perlu bolak balik ke sana. Dan proses ini GRATIS yaa alias ga bayar sepeserpun.) Oia, di puskesmasnya calon suami gue di daerah Jakarta Utara, yang didapat adalah “Sertifikat Layak Kawin”, bukan surat keterangan kaya gue. Hmmm.. when I told Tata about this, she laughed so hard saying that it makes him sound like a cow. Di satu sisi, peraturan baru untuk cek kesehatan pranikah ini ada bagusnya, tujuannya biar orang lebih aware sama kondisi kesehatan masing-masing sebelum nikah, tapi di sisi lain, (alasan kenapa gue premarital check up-nya buru-buru) kalau emang serius, dokter menyarankan pemeriksaan kesehatan dilakukan > 6 bulan sebelum hari pernikahan, biar kalau (amit-amit) kenapa-napa masih sempet diobatin dulu. Kalau dijadiin syarat surat pengantar kan otomatis orang baru akan ngetes paling cepet 3-4 bulan sebelum hari H.

Setelah semua dokumen itu masuk, tergantung availability masing-masing RT, RW dan Lurah, dokumen ini bakal balik ke kita:

  • Surat keterangan model PM1 (pengantar untuk mengurus akta pernikahan di catatan sipil), sudah ditandatangani Lurah, dibalikin ke kita untuk ditandatangani, baru selanjutnya setelah itu dibalikin untuk ditandatangani Camat
  • Surat keterangan untuk nikah model N-1 (ini menegaskan status yang kita tulis di Surat Pernyataan yang disiapkan di awal)
  • Surat keterangan asal usul model N-2 (menyatakan bahwa calon yang bersangkutan adalah anak dari ayah dan ibunya)
  • Surat keterangan orang tua model N4 (kebalikan N2, yang ini menyatakan bahwa ayah dan ibu adalah benar orangtua dari calon)
  • Masing-masing 1 copy KTP dan KK yang sudah dilegalisir oleh Lurah

Setelah surat-surat tersebut diterima dari Kelurahan kedua calon pengantin, barulah diurus ke disdukcapil dengan tambahan:

  • Surat Pemberkatan Agama (bisa disusulkan setelah pemberkatan dilakukan)
  • Copy Akta Kelahiran kedua calon
  • Copy Surat Baptis (bagi yang beragama Kristen/Katolik)
  • 4 lembar pasfoto 4 x 6 cm berdampingan
  • Copy KTP kedua ortu
  • Copy KTP 2 orang saksi
  • Surat kuasa bermaterai 6000 rupiah (jika dikuasakan)
  • Copy surat ganti nama (jika ada)
  • Copy Akta Perceraian/Akta Kematian (jika pernah menikah sebelumnya)

Setelah semua lengkap, akan ditanya apakah kita mau pisah harta atau tidak. By default, harta suami istri akan digabung. Kalau mau pisah harta, maka untuk dicatat di capil dan memiliki kekuatan hukum harus disertai:

  • Akta notariil pisah harta (atau lebih dikenal dengan perjanjian pranikah – harus yang dikeluarkan oleh notaris)

[in Bahasa Indonesia] Episode 3: Wedding Preparation in Jakarta (3-6 months before)

Thank God kami ternyata ga salah pilih WO, karena meski kami ga “beli” jasa wedding planner dari si WO, even ga upgrade paket jadi sama si co-founder/cici WO yang udah lumayan ngehits di kalangan vendor wedding untuk hari H, tapi mereka masih bertanggung jawab untuk ngajak meeting periodically buat nginget-ngingetin apa aja yang udah ready dan udah harus ready by next meeting. Jadi apparently wedding preparation checklist itu udah nempel di kepala si WO, dan pas banget 6 bulan sebelum hari H, dia ngajak meeting dan ngingetin apa aja yang harus ready dalam 3 bulan ke depan.

Here we go again.. the list continues:

  • Undangan: (seharusnya di 6-9 bulan sebelum) Inti Prima Karya (http://www.primacard.id/ / http://www.instagram.com/primacard) (Setelah sebelumnya shock karena semua vendor undangan rekomendasi ternyata harganya mahal banget untuk cetak undangan gue yang notabene di bawah minimum sebagian besar vendor dan sempet pengen nyari-nyari di Pasar Tebet, akhirnya dengan berat hati kami memutuskan buat pasrah naikin budget, daripada mempertaruhkan kualitas undangan dan buang-buang waktu buat bener-bener ngecek satu per satu undangan tercetak. Minta rekomendasi dari beberapa orang dan akhirnya PrimaCard ini yang terpilih – rekomendasi dari Devi yang suaminya banyak kenal sama orang percetakan.)
  • Dokumen untuk gereja dan catatan sipil: (seharusnya di 6-9 bulan sebelum tapi pas itu gue merasa masih kejauhan untuk dipikirin) (Ternyata oh ternyata, yang namanya ngurus surat-surat di negara tercinta Indonesia ini memang ga mungkin simple. Dramanya sampe gue bikinin episode sendiri. Fiuuuhh.. Untuk dokumen gereja sih relatif lebih simple lah, cuma harus rela repot bolak balik ke sekretariat gereja aja buat minta dan masukin form ini-itu.)
  • Jahit Gaun 2 Mama dan Adik-adik Cewe: Atelier de Mariee (http://www.instagram.com/atelierdemariee) (Dari semua proses persiapan, menurut gue ini yang paling ribet karena ngelibatin nyokap-nyokap. Untungnya di detik-detik trakhir akhirnya nemu vendor ini dari rekomendasi temennya nyokap dan nyokap langsung cocok, setelah ada drama di vendor sebelumnya.)
  • Jahit Jas Papa: A Tham (https://athamtailor.com/) (Yang ini dramanya cuma “maksa” bokap buat mau jahit jas baru, tapi untuk pilih vendornya ga ada masalah macem-macem.)
  • Wedding Cake: include di venue (done)
  • Wedding Car: include di venue (done)
  • Wedding Souvenir: done di range 9-12 bulan sebelumnya
  • Photobooth: ga pake
  • Rundown Schedule: done by WO pas meeting persis H-6 bulan.
  • Wedding Shoes: beli jadi di ITC yang penting enak dipake (maklum pengantinnya males ribet. Toh ga keliatan juga kan sepatunya di dalem wedding gownFingers crossed semoga ga lecet pas hari H.)
  • Fitting Wedding Gown: ini di-skip berhubung gue sewa gaun yang udah ready.
  • Jahit Jas Pengantin Pria: done di 6-9 bulan sebelum
  • Honeymoon: done di 6-9 bulan sebelum
  • Wedding Bouquet: Atrina Soendoro (http://www.instagram.com/atrinasoendoro) (Ini adalah vendor buket yang highly recommended by WO gue, dan setelah coba kontak 3 vendor, akhirnya gue pun jatuh cinta sama Bu Atrina. Bukan cuma karena buketnya yang bagus-bagus dan sistem single price for all kind of flowers, tapi juga karena keramahan dan kesigapan jawab WA.)

[In Bahasa Indonesia] Episode 2.5: Premarital Check Up

Mengenai premarital check up ini, banyak sekali pendapat berseliweran di sekitar saya. Nyokap tentunya bilang ga perlu (terutama karena pas jaman doi nikah, belum musim ada ginian), adik gue yang apoteker bilang ‘it’s nice to have, but not mandatory‘, sementara temen baik gue yang dokter bilang ‘penting tuh, biar kalo ternyata ada penyakit masih sempet diobatin dulu’.

Setelah memantapkan tekad (dan ngitung duit), disertai parno setelah denger cerita orang-orang, akhirnya gue dan pasangan memutuskan buat melakukan premarital check up. Ohya, tambahan informasi dari temen gue yang dokter itu, premarital check up idealnya dilakukan lebih dari 6 bulan sebelum hari H, karena sebagian besar ‘temuan’ yang mungkin bakal mengganggu kehamilan, misal virus Rubella (campak), pengobatannya memakan waktu 6 bulan. Dan kalo memang calon pengantin cewe ada virus Rubella-nya, sangat dianjurkan buat diobati sebelum hamil, karena keberadaan virus itu bisa mengakibatkan keguguran atau si bayi lahir cacat (amit-amit kan..).

Jaman sekarang kayanya emang premarital check up ini ngetren, karena hampir semua rumah sakit dan lab klinik menyediakan paket premarital check up. Yang membedakan tentu aja paket yang ditawarkan dan harganya. Oia, sebelum gue nanya-nanya ke pihak RS, gue nanya dulu ke adik gue, tes apa aja yang wajib ada, dan ini list dari dia (gue ga tau gimana cara bikin list urut 1-4, but you know what I mean, don’t you?):

  1. Tes penyakit menular yang disebabkan oleh virus (cewe dan cowo):
  • VDRL/RPR
  • TPHA
  • HbsAg, anti Hbs
  • anti HCV
  • anti HSV 1 dan 2 IGM
  • anti toxoplasma IGG
  • anti rubella IGG
  • anti CMV IGG
     Note: IGM menunjukkan lu belum lama ini terinfeksi virus tsb; IGG       menunjukkan lu punya antibodi ga terhadap virus-virus itu.
  1. USG ObGyn (cewe) / analisa sperma (cowo)
  2. Tes darah (golongan darah dan Rhesus) (cewe dan cowo)
  3. Tes genetik (carrier hemofilia, sickle cell, thallasemia) (cewe dan cowo)

Berhubung gue males repot dan paket yang ditawarkan di RS lebih lengkap daripada di lab klinik (tentunya lebih mahal juga sih), jadi gue cuma nanya ke 2 rumah sakit yang letaknya deket rumah gue (‘langganan’, meski gue jarang banget ke RS):

  1. RS Pondok Indah Puri Indah (http://www.rspondokindah.co.id/id/our-hospital/2/rs-pondok-indah—puri-indah) – gue kontak CS-nya melalui email dan amazingly email gue dibales hanya dalam waktu 6 menit saja, saudara-saudari!! 😀RSPI
  2. RS Siloam Kebon Jeruk (https://siloamhospitals.com/our-hospitals/read/siloam-hospitals-kebon-jeruk.html) – yang ini lebih fleksibel karena ada paket-paket dan optional item yang bisa ditambahin misal kita ga mau ambil paket yang paling lengkapnya.

siloam1siloam2

Seperti yang udah gue mention di post satunya, akhirnya gue pilih di Siloam untuk premarital check up ini, karena masalah budget dan fleksibilitas paket. Oia harga yang tercantum di sini adalah harga 2018, jadi sebaiknya kalo mau nyari, nanya lagi aja karena keliatannya tiap RS ada penyesuaian harga tiap tahun. Dan ini syarat sebelum check up (sama untuk kedua RS):

Khusus untuk paket pre marital, persiapannya untuk laki-laki karena ada pemeriksaan sperma dianjurkan untuk puasa tidak mengeluarkan sperma minimal 3 hari maksimal 5 hari, tidak perlu puasa makan dan minum, untuk wanita dianjurkan sedang tidak menstruasi atau paling baik hari terakhir menstruasi ditambah 5-7 hari karena ada pemeriksaan USG Kandungan.

Semoga membantu. 🙂

[in Bahasa Indonesia] Episode 2: Wedding Preparation in Jakarta (6-9 months before)

Gue tetep pake checklist sebagai referensi, dengan beberapa hal gue kerjain in advance berhubung ternyata calon-calon penganten lain lebih kiasu (it’s Chinese-Hokkien for ‘very competitive’ alias ga mau kalah) daripada gue dalam hal booking-booking.

Jadi inilah hal-hal yang gue lakukan dalam rentang waktu 6-9 bulan sebelum hari H (seperti biasa, yang mendahului timeline checklist gue merahin dan tetep gue list yang seharusnya di rentang waktu 6-9 bulan sebelum):

  • Premarital Check Up: RS Siloam Kebon Jeruk (https://siloamhospitals.com/our-hospitals/read/siloam-hospitals-kebon-jeruk.html) (Yang ini nanti akan gue buatin post khusus, berhubung premarital check up ini masih belum umum dilakukan oleh pasangan-pasangan di Indonesia. Intinya, premarital check up ini sebaiknya dilakukan paling lambat 6 bulan sebelum hari H.)
  • Foto Prewedding: Blitz On Photography (http://www.instagram.com/blitz_on) (Ini juga awalnya menurut gue ga perlu, tapi berhubung gue dan pasangan sama-sama ga doyan selfie, daripada foto kenang-kenangan berduanya cuma pas hari H, dijadiin aja deh prewed-nya. Oia demi menghemat budget, baju-bajunya kami pake yang ada aja (cuma beli sedikit aja) dan make up gue pun pake trial make up paketan MUA.)
  • Prewedding Venue: Studiology by Motoinc Studio (http://www.instagram.com/studiology_)
  • Kursus Persiapan Perkawinan/Membangun Rumah Tangga (MRT): Gereja Sathora (http://www.sathora.or.id) (Datang langsung ke sekretariat paroki untuk ambil formulir; setelah formulir diisi lengkap disertai fotokopi surat baptis untuk yang katolik, fotokopi KTP, 4 lembar pasfoto berdampingan 4×6, dan tanda tangan pastor paroki, barulah dipulangin ke sekretariat dan bayar 400ribu untuk biaya buku panduan dan konsumsi kursus.)
  • MC & Entertainment: udah paketan dari venue, considered done
  • Bestman, bridesmaid, usher, flower girl: kerahkan pasukan dari keluarga
  • Tempat dan jadwal pemberkatan: udah di 9-12 bulan sebelum
  • Siapin dokumen untuk gereja dan catatan sipil: consider it done (meski sebenernya sampe sekarang belum ke kelurahan)
  • Undangan: belum :O
  • Jahit Jas Pengantin Pria: Brillington & Brothers (http://www.brillingtonbrothers.com/https://www.instagram.com/be_brillington/) (Khusus yang ini, gue serahkan sepenuhnya ke si pasangan, termasuk urusan pilih-pilih kain, cuma gue kasitau aja warna yang cocok kira-kira apa.)
  • Booking Honeymoon: Dwidaya Tour (https://www.dwidayatour.co.id) (Setelah hampir ga jadi honeymoon karena kepentok masalah dana, thank God dibukain “jalan” jadi bisa berangkat juga.)
  • Sulam Alis: Browlogy by Sherly (http://www.instagram.com/browlogy) (Ini sebenernya ga perlu, tapi si capeng yang ini pengen gaya-gayaan dikit berhubung alisnya rada botak. Padahal sih juga bakal dilukis sama si MUA.)

[in Bahasa Indonesia] Episode 1.5: Survey Venue di Jakarta

Sama seperti blog orang-orang yang sudah-sudah, tujuan gue bikin wedding preparation series ini adalah untuk membantu/memberikan sudut pandang lain untuk pasangan yang merencanakan menikah, terutama di Jakarta. Di episode 1.5 ini, gue akan share soal pengalaman gue dan calon suami survey venue. Venue yang kami cari emang di sekitaran Jakarta Barat-Pusat yang akses jalannya ga nyusahin orang dari tempat lain, dengan pertimbangan keluarga gue rata-rata domisili di situ.

*Note: harga yang ada di sini adalah harga tahun 2017, jadi untuk update-nya bisa menghubungi marketing masing-masing venue.

Hotel Harris Vertu Harmoni (letak ballroom dan concierge-nya di HXC lantai 5)

Berhubung awalnya sok-sok berbesar kepala mau ngadain acara di hotel, jadi inilah tempat pertama yang kami datengin. Sayangnya karena kepedean, jadi kami dateng-dateng aja ke sana tanpa bikin janji. Alhasil pas dateng ke sana pas banget lagi ada event, akhirnya ga bisa liat ke ballroom-nya. Tapi kesan yang kami dapat pas ke sana (dikasi pros and cons ya):

  • (+) tempatnya mewah (mungkin juga karena baru)
  • (+) pelayanannya ramah dan baik (meski ga pake janji, ga bisa ketemu sales-nya, tapi tetep ga dicuekin aja)
  • (+) ada area poolside-nya di belakang concierge, yang boleh juga dipake buat area pesta kalo misal ngadain acara di situ
  • (+) di bagian samping HXC, di lantai bawah ada hotel Yello (budget hotel). Ini lumayan penting karena jadi gampang banget kalo ada tamu dari luar kota.
  • (-) parkirannya agak sempit dan gedung samping-sampingnya susah cari parkir
  • (-) harganya agak tinggi karena termasuk hotel baru (ini relatif ya tergantung budget masing-masing pasangan, tapi sebagai gambaran, untuk 400 orang tamu harganya sekitar 300+ MIDR)

Hotel Alila Pecenongan (seberang Hotel Redtop)

Mampir ke hotel ini sekalian lewat doang sebenarnya, pas mau ke Redtop dan mampir ke Indomaret. Meski ga bikin janji, tapi berhasil ketemuin orang marketing-nya dan sempet diajak ngeliat ballroom-nya juga sekalian. Kesan-kesannya:

  • (+) pelayanannya ramah
  • (-) hotelnya tua bangeeett dan interiornya bikin suasana jadi creepy (gelap dan banyak hiasan-hiasan patung kayu kuno)
  • (-) (ini kata nyokap yang pernah pergi kondangan di situ) makanannya kurang enak

Hotel Redtop (Jl. Pecenongan Raya)

Ngeliat hotel ini karena memang ini salah satu kandidat terkuat buat jadi tempat resepsi kami. Plus, adik gue pas itu baru aja selesai seminar 2 hari di sana dan dia bilang makanannya enak-enak (jarang banget dia bilang makanan enak). Harganya juga masuk budget. Dateng ke sana, again go show juga dan ga berhasil ketemuin marketing-nya, tapi banquet-nya lumayan paham soal apa yang harus dijelasin (kecuali masalah harga).

  • (+) pelayanan ramaaah dan profesional banget
  • (+) meski hotelnya udah tua (kayanya lebih tua daripada Alila), tapi masih terawat bersih dan bagus banget interiornya
  • (+) parkirannya luas
  • (+) (ini relatif ya tergantung selera) makanannya enak-enak (tapi juga pas pameran wedding sempet nyicipin, menurut gue biasa aja sih)
  • (+) harga relatif murah untuk ukuran hotel (400 pax tuh sekitar 180 MIDR)
  • (+) ballroom-nya luas dan mewah, khas hotel-hotel jaman dulu yang langit-langitnya tinggi dan megah

Hotel Merlynn Park (Jl. Hasyim Ashari, Roxy)

Iseng-iseng mampir ke hotel ini karena letaknya lumayan strategis sesuai kriteria (di perbatasan Jakarta Barat-Pusat dan jarang macet kalo malem minggu) dan pernah dateng nikahan di sini, makanannya lumayan enak meski ga spesial banget. Akhirnya (again tanpa janji) dateng ke sini dan hanya berbekal ditemani banquet (terpujilah kalian, wahai banquet-banquet hotel yang sudah bersedia kami susahin) ngeliat 2 ballroom yang emang biasa buat resepsi: casagrande/grand ballroom (kapasitas 1000+ orang, jadi ga disarankan buat kami yang emang ga mau ngundang banyak-banyak) dan golden phoenix ballroom (kalo tamu kurang dari 500 orang, ruangan ini lah yang dipake).

  • (+) grand ballroom-nya cakep dengan langit-langit tinggi megah
  • (+) posisi strategis dan malam minggu jarang macet
  • (+) harga masih oke lah (untuk 400 pax sekitar 175 MIDR)
  • (+) parkiran luas
  • (-) grand phoenix ballroom-nya aksesnya susah (dari lift harus ngelewatin pantry), langit-langit rendah dan di tengah ada pilar besar banget jadi kurang oke
  • (-) parkirannya creepy dan kurang terawat (tembok basement yang pojokan masih unfinished gitu batanya keliatan)
  • (-) lantai di lobby dan koridor pake warna merah menyala dengan glitter silver (kalo kata calon suami: kaya di film-film mafia china)

The Vida Ballroom (Jl. Perjuangan, Kebon Jeruk – sebelah RS Siloam Kebon Jeruk)

Ini adalah gedung pertama yang kami datangi, tanpa ekspektasi apa-apa (karena seperti yang udah gue tulis di atas, awalnya kami pengen ngadain di hotel), cuma berbekal ketemu marketing-nya pas Bride Story Market 2017. Iseng janjian sama marketing-nya pas mau ada wedding (lagi pada ribet dekor di ballroom), dan langsung berasa sreg. Sayangnya pas itu kami belom ada tanggal, dan tanggal pertama yang kami pilih pun ternyata ga available. 😦 Untungnya setelah ganti tanggal, cek lagi, ternyata available. Udah seneng banget dan dalam waktu 5 menit gue dan calon langsung transfer booking fee 5 juta. 😛 (Disclaimer: kesan-kesan yang gue list down di sini bisa bersifat sangat subjektif karena emang kami suka tempatnya.)

  • (+) ballroom-nya terkesan mewah, ga terlalu besar (pas untuk tamu kami yang rencananya cuma 400 orang) dan kami juga suka banget area foyer-nya
  • (+) akses ke venue relatif gampang karena ga jauh dari pintu keluar tol dan lokasinya ada di Google Maps
  • (+) ada parkiran halaman (di area belakang gedung) dan basement 1-2 (katanya sih total muat 450 mobil), trus akses ke ballroom-nya ada 3 lift
  • (+) beberapa kali ngecek, jalan di depan gedung selalu sepi pas weekend (yang bikin agak macet cuma antrian masuk gedung pas ada wedding)
  • (+) ada option all-in/one-stop wedding package yang memudahkan banget buat pasangan yang ga mau ribet (kaya kami, LOL)
  • (-) pilihan vendor terbatas karena cuma bisa pilih dari list partner vendor, tapi untungnya partnernya lumayan oke

Grand Wedding Hall (Gajah Mada Plaza lantai 7)

Singkat cerita, pameran wedding yang pertama kali kami datengin adalah Bride Story Market, dan pas banget Eva Bun Bridal (yang ternyata sekarang ada WO-nya juga) posisinya persis di deket pintu masuk. Jadi setelah ngobrol lumayan lama, kami datangi juga lah pas mereka adain open house di Grand Wedding Hall ini. Usut punya usut, ternyata dulu ortu gue married di sini (dulunya tempat ini resto Chinese food). 😀

  • (+) posisinya di Jl. Gajah Mada, jadi gampang banget nyarinya dan pas banget juga di tengah-tengah Jakbar-Jakpus
  • (+) ukuran ballroom ga terlalu besar, jadi pas lah kalo tamunya sekitaran 500-600 orang
  • (+) marketing Eva Bun-nya (keliatannya mereka yang paling gencar promosiin GWH ini) sigap banget nanggepin pertanyaan-pertanyaan kita dan ga pelit berbagi
  • (-) interiornya jadul (well, you can calculate sih kalo emang tu tempat eksis dari jaman ortu gue married, berarti tu tempat emang ud lebih tua dari gue), dan yang paling gue kurang sreg adalah langit-langit ballroom-nya yang dicat biru muda dengan aksen awan-awan putih, karena menurut kami itu kurang cocok buat tempat acara wedding
  • (-) akses ke hall-nya susah, karena even gue yang dulu lumayan sering main ke Gajah Mada Plaza pun kesulitan buat nyarinya (clue: naik dari lift yang di belakang, hall-nya di dekat kolam renang)

The Penthouse Wisma Citicon (Jl. S. Parman, Slipi – ga jauh setelah Hotel Menara Peninsula)

Tau keberadaan Wisma Citicon udah lama, karena kebetulan di kerjaan kami sempet berurusan juga sama mereka. Begitu tau bahwa lantai paling atas alias penthouse-nya disewain untuk wedding dan view-nya oke banget juga karena sekelilingnya kaca semua, kami pikir lucu juga kali ya kalo ngadain wedding di sini. Jadi kami ngecek lah, kontak-kontak ke orang marketing-nya meski ga sempet dateng survey karena kebetulan pas kami bisa dateng, pas banget ga ada wedding. Begitu ada wedding di situ dan kami bisa, kami udah nge-DP di Vida, jadi ga perlu lagi ngecek ke sini. Kesan ini pure dari hasil tektokan dengan marketing dan liat foto-foto dari WO ya:

  • (+) marketing-nya responsif banget baik via telepon maupun email, juga fair enough untuk ngasitau di awal soal paket-paket wedding, baik yang direct maupun lewat WO (WO top di sini keliatannya Ohana dan Quattro)
  • (+) tempatnya cukup luas dengan kapasitas yang ga terlalu besar, dengan view yang oke banget karena dikelilingin kaca (kurangnya cuma karena di luar kaca ada jeruji-jerujinya)
  • (+) harga lumayan mendukung budget (paket direct ke building management untuk wedding dengan 400 orang tamu sekitar 150 MIDR – harga yang sama dengan WO)
  • (+) lokasinya strategis di jalan besar, jadi gampang kasitau orang
  • (-) kalo malem minggu macet 😦 tp still ok