[in Bahasa Indonesia] Menstrual Cup Experience: Organicup

Setelah berpikir selama sekitar 5 menit, gw memutuskan buat nge-post ini dalam bahasa Indonesia aja, didasari keprihatinan karena gw kesulitan banget nemu referensi soal topik ini dalam bahasa Indonesia. Well, it’s not like Indonesian don’t understand English.. it’s just that we need to love our Bahasa Indonesia more.

Minggu lalu pas lagi buka-buka Instastory, sampailah gw pada satu testimoni temen gw soal menstrual cup. Dari situ gw mulai chattingan sama dia, berlanjut googling nyari info selengkap-lengkapnya. Sedihnya, referensi yang gw temuin hampir semua dari luar negri. Yang lokal mulai banyak sih, tapi dalam bentuk video. Berhubung gw anaknya ga suka nonton video (lebih milih baca artikel), jadi referensi lokal itu ga gitu kepake. Dan sedihnya lagi, sekalinya nemu referensi yang gw harapkan agak ilmiah (Dr. Oz Indonesia – Youtube), infonya agak misleading.

Apa itu menstrual cup?
Ini exactly pertanyaan pertama gw di chattingan sama temen gw. Kalo secara definitif, menstrual cup ini adalah ‘cangkir’/’cawan’ (cup) untuk nampung darah menstruasi. Fungsinya sama kaya pembalut ataupun tampon, tapi kalau pembalut dan tampon itu rata-rata cuma sekali pake langsung buang, kalo menstrual cup ini bisa dipake berkali-kali tergantung lifetime produknya (ada yang nge-claim bisa sampe 10 tahun – kebenarannya belum ketauan karena produk ini sendiri baru diperkenalkan sekitar 6 tahun lalu).

Ga kebayang deh, gimana bentuknya dan di mana pakenya?
Bentuknya mirip kaya gelas wine, tapi tanpa alas bawahnya. Kapasitasnya bervariasi tergantung ukuran cup, sejauh ini yang gw temuin sih antara 30-50 ml. Yang bentuknya kaya ‘kaki’ gelas (biasa disebut stem dalam bahasa Inggris) panjangnya bisa di-custom sesuai kebutuhan, fungsinya untuk memudahkan pas mau narik cup keluar.

Image result for menstrual cup
Buat yang penasaran menstrual cup bentuknya gimana (Pic from: http://www.healthline.com)

Sekarang ini udah banyak banget pabrikan yang bikin menstrual cup ini, dan rata-rata pake material yang sama: medical grade silicon alias silikon yang biasa dipake buat bikin dot bayi. Silikon yang dipake ini bahannya lentur, dipasang di dalam vagina, di bawah serviks (leher rahim). Sebelum, di tengah-tengah, dan setelah pemakaian ada treatment sendiri yang penting banget dipatuhi untuk menjaga kebersihan si menstrual cup.

Image result for menstrual cup application
Posisi pemasangan menstrual cup (picture from wikihow.com)

Gimana cara tau menstrual cup yang pas untuk kita?
Ini sebenernya yang bikin gw lamaaaa banget (sekitar 4-5 hari) mutusin beli yang mana, karena banyakan referensi yang ada itu either ngasih review soal produk yang ga dijual di Indonesia, atau penjelasannya kurang ngena sehingga gw sendiri jadi ga yakin (hampir semuanya cuma nyuruh nentuin berdasarkan sudah pernah atau belum melahirkan normal). Setelah browsing dan baca-baca, akhirnya kesimpulannya begini caranya:
1. Evaluasi umur dan sudah pernah melahirkan normal atau belum. Berdasarkan hasil baca-baca gw, setelah umur cewek di atas 30 tahun atau pernah melahirkan normal, ukuran panggul akan membesar, sehingga akan butuh menstrual cup yang ukurannya (diameter) lebih besar.
2. Caritau tinggi serviks kita (dari vagina). Selain diameter, ukuran lain yang biasanya dikasitau oleh pembuat menstrual cup adalah panjang cup + stem (stem bisa dipotong). Basically, kalo cup-nya kependekan, akan susah untuk ngelepasnya, dan kalo sebaliknya cup kepanjangan, akan nongol (ga nyaman). Jadi, belilah cup dengan panjang yang pas dengan tinggi serviks kita. Untuk tau cara ngukurnya, bisa liat di (salah satunya) https://www.youtube.com/watch?v=ERSU6X37ykU.
3. Evaluasi juga flow menstruasi kita. Berapa banyak pembalut yang kita pake pada umumnya (kondisi penuh). Soal volume ini sebetulnya lebih sulit dikira-kira. Prinsipnya, kalo diameter dan panjangnya udah pas, dan kebetulan emang flow kita tinggi, ya rajin-rajin aja ngosongin si cup biar ga bocor.

Ada rekomendasi merk menstrual cup yang bagus dan kisaran harganya?
Ini purely hasil kekepoan gw (karena gw anaknya punya rasa ingin tau yang tinggi) – di Indo sendiri gw belum pernah nemu ada yang jual menstrual cup di toko fisik (monggo diinfo kalo ternyata ada), jadi sumber belinya sementara masih di online shop. Udah mulai banyak yang jual di Tokopedia dan Shopee (gw ga ngecek toko lain), dan harganya sangat bervariasi. Gw pribadi pilih yang harganya di tengah-tengah, karena kalau terlalu murah takut bahannya ga jelas, secara mau dipasang di area sensitif ya kan.. sementara kalau terlalu mahal sayang juga, karena baru mau coba dan takut ga cocok.

Jadi inilah hasil cek-cek gw di beberapa sumber (again, sumbernya dari luar, yang lokalan masih dikiiitt terbatas banget):
1. Lunette (distributor resmi di Indonesia: Higea ID), harga IDR 699.900. Downside dari Lunette itu karena dia ga ada yang clear, jadi kalo yang kulitnya sensitif takut malah ga cocok sama zat pewarnanya (ini alasan gw ga jadi beli).
2. DivaCup (distributor resmi di Indonesia: Higea ID), harga IDR 699.900. Diantara 5 produk yang gw sebut di sini, DivaCup ini banyak yang bilang paling enak, karena diameternya ga gitu besar tapi bisa nampung banyak (bentuknya memanjang), jadi ga bikin sempit.
3. Lena Cup (referensi harga dari Tokopedia sama Shopee), harga IDR 699.900. Lena Cup ini meng-claim bahwa produk mereka paling nyaman dipakai oleh orang yang baru pertama kali pake menstrual cup, tapi banyak juga yang bilang di forum bahwa ga senyaman itu karena bentuknya yang kaya bunga tulip. Plusnya Lena Cup ini, 1 pak isi 2 cup langsung, ukuran kecil dan besar, jadi yang belum tau ukurannya harus yang mana, bisa coba pake 2-2nya.
4. Mooncup (bikinan UK, tapi sejauh yang gw tau belum ada distributor resminya di Indonesia, jadi referensi harga gw masih dari Tokopedia sama Shopee), harga IDR 599.000. Awalnya naksir sama Mooncup, juga karena temen yang memperkenalkan menstrual cup ini pake Mooncup, tapi ternyata Mooncup cuma cocok untuk yang low to medium alias kalo badannya segede gw, bakal susah ngelepasin cup-nya malahan.
5. Organicup (silikonnya dari US, tapi cup dibuat di China, gw beli dari Ekko Store, referensi harga dari Tokopedia sama Shopee), harga IDR 399.900. Akhirnya pilihan gw jatuh ke Organicup ini. Selain dia vegan dan allergy-free, juga harganya paling bersahabat. Volumenya juga lumayan besar, jadi ga perlu terlalu sering unloading pas lagi dipake.

Apa keunggulan menstrual cup dibanding pembalut dan tampon biasa?
Yang pasti menstrual cup ini lebih ramah lingkungan dibanding pembalut dan tampon sekali pakai, karena 1 menstrual cup bisa dipakai untuk lebih dari 1x siklus menstruasi, bahkan ada yang meng-claim bisa sampe 10 tahun. Pembalut dan tampon sendiri butuh waktu 500-800 tahun untuk terurai (sebagai gambaran, sampah plastik butuh waktu 10-1000 tahun untuk terurai). Kebayang kan betapa makin hari sampah pembalut dan tampon bakal makin numpuk kaya gimana.. 😦

Keunggulan lainnya sejauh yang gw baca dan alami:
– lebih bersih karena ga bocor (kecuali di 2-3 kali pertama pake, kadang masih ga bener pakenya jadi bocor dikit)
– ga bau karena darahnya belum kluar dari tubuh jadi belum kena bakteri yang bikin bau
– ga ribet karena ga perlu sering-sering dikuras (ini tergantung flow menstruasi dan kapasitas cup), dan darah yang keluar cukup dibuang ke kloset dan di-flush
– 
nyaman banget karena ga bikin iritasi dan ga lembab (masalah yang sering dialami kalo pake pembalut)

Pic taken from: https://www.hipwee.com/feature/12-jenis-sampah-dan-waktu-yang-dibutuhkan-untuk-terurai-bahkan-kita-produksi-tiap-hari/

Gimana cara ngebersihin menstrual cup?
Kurang lebih kaya bersihin dot bayi (karena harus steril dan bersih terus):
1. Sebelum dipake, direbus dulu di air mendidih selama 10-20 menit untuk sterilin (pastiin cup ga kena dasar panci)
2. Semasa menstruasi, setiap habis dikosongin (enaknya sih pas mandi biar sekalian), dicuci bersih pake air suam-suam kuku + sabun (rekomendasi pake sabun khusus daerah kewanitaan), trus pake lagi deh
3. Selesai menstruasi, direbus lagi di air mendidih selama 10-20 menit sebelum disimpan

Semoga membantu. Kalau ada yang mau ditanya lagi, monggo di comment.. 🙂

Advertisements

to my future husband

*I just found out lately that he likes it when I write about him in my blog post. Apparently someone is more extrovert than I ever thought he is.

Dear Future Husband whose-name-is-left-unmentioned,

I never believed in love at first sight, and how we finally fell in love is proven to be a process. I can still remember the days I scolded you for being super annoying and your only response was only laughing. It was long after those days that we met again in a totally different setting – thanks to our dearest friend. It took more than 10 dates before we finally decided to be boyfriend and girlfriend.

Looking at how we were when we first knew each other, I can hardly believe that we are finally here today, preparing for our big day together. Ever since we became official, everything has always been so easy that I came to believe that the universe wants us to be together. (Or maybe it’s just our luck combined.)

Thank you for making me believe in love again, this time unconditionally. When we first met again, I felt like I was self-accomplished and won’t need a guy to make me happy. Even worse, I stopped looking for a guy and thought of never going to marry. Every guy I was ever close with was never the right guy, and I was totally tired with useless dates.

Thank you for accepting all my flaws – as a normal human being, I’m not flawless, but I highly appreciate your efforts to accept me as my true self. We are two different individuals with different backgrounds, so it’s just normal that we differ on so many things. What makes me sure to take you as a husband (yes, it’s a mutual thing) is the fact that you nearly complement all my flaws (‘nearly’ is because nothing is perfect in this world).

Thank you for always being there for me (even though I complain now and then that you aren’t). The biggest fear every woman has when starting dating someone is whether this guy will be consistent in caring for her. The answer is yes with you. As I’m writing this, we are already dating for more than 2 years, and you’re always there for me.

Thank you for all the me-times you constantly give. As an ambivert, I definitely need my me-times from time to time, apart from the care that I constantly demand. Working in project team forces me to meet and talk with a lot of people during the day, so I think it’s just normal that at the end of the day, I also need to get into my ‘cave’ and enjoy my me time. No, you know I don’t go to clubs or drink; most of the time I just read or watch, enjoying the most of my free time doing things as far-related away from work.

Thank you for the apologies and forgiveness. We are indeed a normal couple who argue now and then (even though the frequency is much less compared to my previous relationships). Sometimes it’s you, sometimes it’s me, but every fight we have is making us stronger.

Love you. Today and in the days to come.

XOXO
Your Future Wife
August 2018

[in Bahasa Indonesia] Episode 0: Wedding Preparation in Jakarta (What and How to Guides, by me)

Sampe sekitar 5-6 bulan sebelum hari H gw, banyak banget orang kantor yang bertanya-tanya kenapa gw keliatan santai dan ga ada panik-paniknya sama sekali buat persiapan hari H. Sebagian sih nyinyir karena dikiranya gw punya luxury buat bayar wedding planner full time, makanya gw ga repot. They had no idea that I had actually started preparing for my D-day way before they knew it. The fact is, gw mulai persiapan 14-15 bulan sebelum hari H, paused di 12 bulan sebelum, dan baru lanjut lagi 3 bulan sebelumnya. Buat yang masih bingung harus mulai dari mana, to start bisa cek wedding preparation checklist yang udah gw mention juga di Episode 1. Gw sendiri ga kaku terpaku pada itu; banyak hal yang gw selesaikan sebelum waktunya dan ada juga yang setelahnya.

Wedding Preparation Checklist dari DePuzzle

Sedikit tips dari gw buat yang baru mau mulai:

  • Start with an agreement with your significant other: when your wedding will be, what is your budget and who will pay for what, how to communicate between families, what to take into account and what not, and (if you’re located in Indonesia with diverse traditions to follow) what tradition will your wedding be. Kalo di Indonesia dan sesama orang Indonesia, penting banget tuh sepakat dulu sama pasangan, karena urusan nikahan itu sensitif banget. Soal tanggal dan adat aja bisa panjang omongannya. Tips penting soal komunikasi dengan keluarga yang gw dapet dari temen gw dan gw terapkan: keluarga gw ngomongan cuma sama gw, dan keluarga pasangan ngomongan cuma sama pasangan, begitu juga sebaliknya. Kalopun kejadian pas kebetulan ketemu saling ngobrol, ga usah kasi komentar panjang-panjang, dengerin dan senyumin aja.
  • Then, start from the biggest things and go down to the smaller ones – more details to be paid attention to when it’s closer to the day. Dalam kasus gw, jelas.. 12 bulan menjelang hari H, gw finalin semua yang gede-gede: venue, WO, dekor, catering. Sisanya baru 3 bulan sebelum. Tantangan terbesar kalo di Jakarta itu soal tempat, soalnya kalo tempat yang bagus itu jadi rebutan, mulai dari yang murah sampe yang mahal.
  • When choosing your vendors, stay within your budget. Harap diingat: Instagram (and any other social media) is not your guide. Jangan pernah ngebandingin apa yang bisa lu dapat dengan budget lu, dengan nikahan (misal) artis A atau influencer B. Sesuaikan ekspektasi dengan budget, maksimalkan apa yang bisa didapat dengan budget yang ada. (Guideline yang gw pake – kurang lebih pembagian budget-nya begini: https://www.brides.com/story/wedding-budget-guide-allocating-funds-staying-on-track)
  • Ask for recommendations from family and close friends – yang udah nikah ya maksudnyaaa..
  • Spend time to meet your vendors, at least once. Karena yang paling penting dalam urusan nikahan adalah service dari tiap vendor. Kalo dari awal aja impression-nya udah kurang bagus, ngapain dilanjutin? Yang ada malah nanti makan hati dan makin panik menjelang hari H. Penilaian soal vendor ini definitely bakal subjektif, tapi kan emang namanya orang ketemu orang lain pasti kesannya beda-beda dan cocok-cocokan.
  • Wedding Organizer forms an important part of your big day. Kalau ga ada budget untuk WO, minimal pastikan ada panitia yang bisa dipercaya pas hari H. In my case, saking rempongnya, pas hari H gw udah ga sempet lagi mikirin dan ngeliatin detail satu per satu (I can’t even remember clearly the decor if not through photographs), jadi bener-bener pasrahin semuanya ke WO dan keluarga yang ditunjuk jadi PIC. Kalo WO-nya berantakan dan dari awal keliatan serampangan dan ga well organized padahal lu orangnya organized banget, ga usah dipilih, daripada bikin sakit kepala di hari H.
  • Jangan pernah berharap bisa balik modal dari angpau nikahan, karena itu hanya harapan kosong belaka, kecuali yang lu undang bos-bos besar semua. But then again, kalau emang yang diundang bos-bos besar, ga mungkin juga biaya pernikahannya biasa-biasa aja. Intinya, siapkan budget nikahan sebaik-baiknya sesuai kemampuan dan gausa berharap duitnya bakal balik.
  • SABAR. Berantem adalah sebuah keniscayaan, sekalem apapun calon pasangan lu. Terutama mendekati hari H, pas masing-masing sama-sama dapat tekanan tinggi dari keluarga terutama ortu dan pasangan juga sindrom melepas masa lajang. Kalo diitung-itung, berantemnya gw selama 2 tahun pacaran sama suami gw dibandingin 3 bulan menjelang hari H itu, lebih banyak di 3 bulan menjelang hari H.
  • Sempetin me time di tengah-tengah kesibukan nyiapin wedding. Biar tetep waras.

Good luck preparation!

 

[in Bahasa Indonesia] Wedding Preparation Bonus Episode: Perjanjian Pranikah

Kalimat terakhir gw di post Episode 3.5 nyebut-nyebut soal perjanjian pranikah. Mungkin banyak yang bertanya-tanya perjanjian pranikah itu sebenarnya apa.

Gw sendiri ngenal istilah perjanjian pranikah gara-gara nonton film barat (prenuptial agreement alias prenup), dan ga pernah kerajinan nyari tau sampe akhirnya gw sendiri mau nikah. Untungnya gw punya penasehat hukum yang terpercaya (somse) jadi ada tempat nanya-nanya. Gw sendiri kurang paham perjanjian pranikah ini applicable buat semua golongan di Indonesia apa nggak.

Image result for prenuptial agreement

Sesuai namanya, perjanjian pranikah adalah perjanjian yang dibuat cowo dan cewe sebelum nikah. Inti perjanjiannya adalah harta yang dipunyai sebelum dan setelah nikah, selain yang memang disepakati akan jadi milik bersama, tetap dimiliki masing-masing pihak (pisah harta), dan ini berlaku juga buat seluruh hutang yang ada. Beberapa pasangan ada yang menambahkan juga pasal di perjanjiannya mengenai pembagian harta gono-gini dan hak asuh anak seandainya mereka cerai.

Dalam kondisi pernikahan normal tanpa perjanjian pisah harta, harta dan hutang pasangan suami istri dihitung gabung jadi 1, dan seandainya mereka cerai pun, akan ada lagi pembicaraan harta gono gini yang biasanya berujung salah satu pihak merasa dirugikan.

Gw bisa bilang, pisah harta (dan hutang) ini akan sangat membantu kalo misalkan salah satu pasangan ada yang buka perusahaan atau kerja resiko tinggi. Katakan (amit-amit) tengah jalan perusahaannya bangkrut dan terlibat banyak hutang, dan pasangannya masih setia mendampingi, rumah tangga mereka aman karena pengadilan ga akan berhak ngubek-ngubek harta pasangannya. (Kalau soal perilaku menyimpang yang berpotensi bikin cerai sih harusnya udah dideteksi dari awal ya, ga usah dinikahin aja kalo ada mah..)

Kalo orang-orang kolot mungkin bakal banyak yang nanya: jadi dari awal nikah udah siap-siap buat cerai sampe harus bikin perjanjian pranikah segala? Jawaban gw adalah: nggak. Perjanjian ini bukan buat persiapan cerai, tentu aja. Siapa juga yang mau nikah kalau tujuannya buat cerai. Tapi perjanjian ini melindungi hak dan kewajiban masing-masing pihak ke pasangannya.

Untuk melegalkan perjanjian pranikah ini, dokumen harus ditandatangani di depan notaris, dengan 2 orang saksi. Plus, jangan sampe kelupaan juga buat mendaftarkan ke dinas catatan sipil sebelum penandatanganan akta nikah.

[in Bahasa Indonesia] Wedding Preparation Final Episode: My Wedding Day

Satu hal yang gw inget banget pas technical meeting dibilangin sama WO gw adalah: pokoknya pas hari H kalian tenang aja, kita udah bikinin rundown-nya, jadi kalian ikutin aja ga usah mikir macem-macem. Pas itu, yang di kepala gw adalah: gw takut acara ga berjalan sesuai rencana.

Kenyataannya, pas hari H yang terjadi adalah (saran gw: buat smua calon pengantin, even WO nya ga se-proaktif WO gw, bener-bener gunakan technical meeting sebagai ajang untuk memperjelas semua detail terkecil hari H dengan semua vendor yang terlibat, karena pas hari H udah ga ada waktu lagi buat mikirin apapun):

Jam 2.30 gw di-morning call-in sama both front desk hotel (atas request WO) dan WO gw. Begitu bangun langsung sambil stengah sadar (karena gw cuma tidur 3 jam) siap-siap.

Jam 3 teng MUA gw dan timnya dateng (thank you Vidi for being punctual!). Berhubung kamar gw yang dipake untuk make up (gw tidur sama nyokap biar ade gw dapet ‘bonus’ tidur 2 jam, karena jadwal make up dia baru start jam 5), jadi timnya butuh waktu sekitar 30 menit lagi untuk nyulap tu kamar jadi ruangan make up. (Termasuk manggilin housekeeping buat tambahan kursi.)

Jam 6.30 akhirnya selesai make up gw (nyokap-nyokap udah selesai duluan), trus ga sempet ba-bi-bu lagi (karena sebenernya udah telat dari rundown) langsung autopilot aja ngikutin arahan WO buat take foto dan video plus pake gaun pengantin.

Itu perasaan udah pagi bener siapnya, tapi eh tapi.. ujung-ujungnya baru nyampe gereja jam 9.40 juga. Pemberkatan gw jam 10.

Meski sempet tergagap-gagap pas ngucapin janji pernikahan (padahal beberapa menit sebelumnya masih hafal), akhirnya berasa legaaaaaaa banget pas misa bubaran. Well, ga selega itu sih karenaaa.. baju pengantin gw ketat banget sodara-sodari! Napas aja engap. *ngakak sendiri kalo inget lagi* Alhasil begitu naik mobil, gw langsung mengerahkan tim WO untuk ngebantuin gw longgarin baju. Baru deh bisa makan abis itu.

Abis itu tidur-tiduran bentar (mana bisa tidur dengan kondisi rambut dan make up masih cetar ya kan.. terutama karena bajunya masih dipake – ternyata adat gw adalah (nyokap baru ngasitau H-1) ga boleh lepas-pasang baju pengantin, jadi terpaksa gw ga lepas tu baju seharian), retouch make up, dan tau-tau (autopilot lagi) udah saatnya tea pai, catatan sipil, makan, dan resepsi. Pas akhirnya selesai resepsi (baju, rambut dan soft lens udah dilepasin sebelum cabut dari gedung yayyy), udah ga ngerasain lagi badan kaya apa. Bener-bener dari ujung kepala sampe ujung kaki rasanya lelah. Thank God akhirnya berlalu dan lancar juga berkat WO yang bisa diandalkan. 😀

Jadi urutan hari H gw adalah (ini kayanya lumayan common untuk Chinese Indonesian):

  1. Persiapan pengantin dengan orangtua masing-masing (pengantin pria dipakein jas, pengantin wanita dipakein veil – konon kalo di gw, abis veil dipakein sama ortu ga bole dibuka-pasang lagi – terus ada acara makan onde sama ortu biar lengket terus, atau ada juga yang makan misoa + telur)
  2. Pengantin cowo jemput pengantin cewe di rumah ortu cewe (pas masuk kamar cewe, pengantin cowo ga boleh menghadap langsung ke arah pengantin cewe, jadi dituntun sama ortu cewe membelakangi si pengantin cewe gitu)
  3. Pengantin cewe dan cowo bareng-bareng balik ke rumah ortu cowo (setelah ini, pengantin cewe ga balik lagi ke rumah ortunya sampe pas hari ke-3 abis married – cek Episode 4.5)
  4. Pemberkatan di gereja (atau di vihara, kalau pengantin Buddhist) (ini ngikutin tata cara yang ada aja sih.. biasanya udah baku. Dalam case gw, di gereja Katolik udah ada template tata cara/buku panduan yang tinggal diikutin aja. PR masing-masing calon pengantin cuma milih lagu dan bacaan aja. Plus nyari lektor/lektris untuk bacaan, MC untuk kata sambutan dan kata penutup, misdinar/putra altar kalo dari gereja belum nyediain, koor, dan petugas persembahan.)
  5. Tea Pai (upacara minum teh ala Chinese) (berhubung yang ini kami ga ngerti tata caranya kaya gimana, jadi ngikutin aja arahan WO. Intinya sih dimulai dari ortu cowo, kakek-nenek cowo kalo masih ada, lanjut ke om tantenya, dimulai dari saudara bokapnya cowo yang paling tua sampe ke saudara nyokapnya yang paling muda, lanjut ke ortu cewe, kakek-nenek cewe kalo masih ada, lanjut ke om tante dari bokapnya cewe yang paling tua sampe saudara nyokapnya cewe yang paling muda. Pas giliran pai ke keluarga cowo, pengantin cewe yang hidangin teh, trus nanti tetua kasih perhiasan atau angpau untuk hadiah pengantin baru, dan di beberapa adat, pengantin cewe kasi balasan berupa 1 pasang handuk kecil. Bgitu juga sebaliknya, pengantin cowo hidangin teh untuk keluarga pengantin cewe.)
  6. Catatan sipil (berhubung sekarang petugas capil ga boleh lagi dipanggil ke gereja dan kebetulan ada kenalan petugasnya, jadi kami panggil petugas capil dateng ke gedung resepsi untuk tanda tangan dokumen biar ga ribet lagi ngurusin ke kantor capil. Singkat aja, ga sampe 30 menit prosesinya. Cuma verifikasi data suami-istri dan 2 orang saksi oleh petugas capil, trus tanda tangan akta, udah deh.)
  7. Gladi resik + foto-foto keluarga (sempet rush banget pas mau gladi resik, karena awalnya ga memperhitungkan ada capil abis tea pai. Tp untung akhirnya smua bisa selesai termasuk foto-foto keluarga sebelum jam 18.30. Target achieved karena dari awal udah dipesenin sama om tante buat foto di awal aja pas masih fresh, biar kalo ada yang udah kecapean bisa pulang duluan juga.)
  8. Early dinner (skalian ngumpet dari tamu yang mulai berdatangan)
  9. Resepsi (awalnya gw yang males ribet ini bilang ke WO ga mau mingle, tapi waktu itu WO gw insist untuk tetep adain. Akhirnya ga nyesel sih, karena emang bener, kesempatan buat nyapa-nyapa dan foto-foto bareng jadi nambah banget. Singkat cerita, urutan resepsi gw standar aja: prosesi masuk, speech pengantin pria, potong ‘kue’ dan suap-suapin kue ke ortu, wedding toast, doa sebelum makan, salam-salaman, mingle, trus foto bersama deh.)

All the best buat calon pengantin di luar sana! 🙂

[in Bahasa Indonesia] Episode 5: Wedding Preparation in Jakarta (0-1 month before)

Time is approaching.. dan gue super panik karena ternyata… banyak banget detail printilan yang harus diurusin. Not to mention gue harus ngurusin ngisi apartment dan pindahan. Guilty as I am, banyak PR yang ke-pending dari Episode 4.

  • Finalize Decoration (Church): koordinasi cuma dilakukan via WhatsApp aja dengan seksi dekorasi gereja.
  • Finalize Decoration (Reception): koordinasi cuma dilakukan via WhatsApp (vendor kirim gambar desain, trus dikomentarin, revisi, sampe akhirnya acc)
  • Finalize Wedding Bouquet: akhirnya disempetin ketemu sama Bu Atrina di H-10 sebelum TM, demiii dapet buket yang bagus. Dan ternyata emang bagus buangeeeeeettt, sesuai keinginan. 😀
  • Fitting Wedding Gown: fitting terakhir gw lakukan 3 minggu sebelum hari H, untuk finalisasi teknis pelaksanaan hari H (apa aja yang perlu dibawain, kapan pengambilan, asisten buat bantuin pake baju ke mana jam berapa).
  • Final Fitting Groom’s Tux: dan you know what?? Jasnya laki gw akhirnya baru diantar ke hotel malam sebelum hari H.. (can you imagine how panicked I was??)
  • Final Fitting Mothers’ and Sisters’ Gowns: (despite all plans to do this as early as possible) H-3
  • Finalize Lunch Box (Church): jauh-jauh hari udah DP ke satu vendor, tapi karena si vendor ga responsif, akhirnya last minute gw memutuskan buat ganti vendor (Nasi Kotak Kotak), dan baru dibayar lunasin H-3. So not me, but that’s the truth.
  • Booking Accommodations for Family Members: only applicable to my husband – dan gw serahkan ini ke dia, karena gw udah kepusingan mikirin yang lain
  • Sending Out Invitations: langsung gw lakukan begitu selesai sangjit (karena emang secara adat baru boleh bagi undangan setelah itu)
  • Preparing Tea Ceremony Souvenirs: belanja-belanja (online) gw lakukan dari 1 bulan sebelum hari H. Niatnya pengen nyiapin sendiri, tapi ujung-ujungnya jadi minta tolong WO aja.
  • Ensuring Invitations are Received and Souvenirs are Delivered: ngikutin cara laki gw: WhatsApp-in lagi undangannya ke tiap orang yang diundang. Dan thank God vendor souvenir gw super reliable – H-2 minggu souvenirnya udah sampe semua (ke kantor WO), dalam kondisi sudah dipasangin thank you card. 🙂
  • Technical Meeting with All Vendors: berhubung TM cuma bisa dilakukan pas hari kerja, akhirnya baru terlaksana H-10 gara-gara gw lagi hectic banget di kantor. Lika-liku wedding preparation orang kantoran.
  • Reminder all PIC (Family): untungnya gw terlahir di keluarga besar yang udah biasa diberdayakan untuk saling bantu.. jadi smua spupu yang tugas udah sigap. Malah beberapa kali mereka yang inisiatif nanya duluan soal tugas masing-masing.
  • Put A Trust to Your Wedding Organizer: again gw mau bilang gw ga salah pilih WO. Super organized, super sigap dan very helpful. Thanks DePuzzle! 🙂
  • Relaxing, Having a SPA treatment: pengantin yang satu ini terlalu sibuk ngantor sampe ga kepikir buat booking any kind of treatment. Akhirnya last minute gw sempet-sempetin facial di Felize (http://www.instagram.com/felize.beautybar), yang gw pilih karena di sana bisa facial tanpa bikin muka gw yang sensitif ini bengkak merah-merah, dan H-1 gw sempet-sempetin gel meni-pedi di The Nail Shop (tanpa reservasi! untung masih dapet slot), naik ojek pula pp. Hahaha..

That’s it. Sampe H-1 masih kerasa hectic banget sampe akhirnya gw memutuskan buat matiin HP kantor dan ga nyalain laptop sama sekali.

[in Bahasa Indonesia] Episode 4.5: Persiapan Pernikahan ala Chinese Indonesia

Buat yang ga personally kenal gue, sebetulnya keluarga gue itu tipikal Chinese Jakarta yang udah ga terlalu kental tradisinya. Kami masih ngerayain Chinese New Year alias sincia, tapi tradisi lain yang (lumayan) ngerepotin sebenernya udah nggak, karena mayoritas kami juga udah bukan Buddhist. Sooo.. it’s just natural that pas persiapan pernikahan, keluarga gue sebenernya ga terlalu ribet dengan hitungan ini itu. Tapi keluarga calon gue masih, jadi dijalanin aja deh. (Ortu gue tipenya yang: kalo emang hitungannya bener bawa kebaikan kan bagus juga, jadi jalanin aja.)

Ini ga full tradisi juga diikutin, cuma yang penting-pentingnya aja, dan mungkin bisa sedikit kasi clue ke para calon pengantin Chinese lain yang mau ikutin tradisi (karena sejujurnya gue pun super bingung dengan istilah-istilah yang ada sebelum ngalamin sendiri):

  1. Lamaran. Ini kayanya standar sih dan semua adat, even di negara barat, sebelum nikah pasti ada lamaran. Yang membedakan cuma lamarannya sampe mana. Kalo di adat timur, termasuk yang ada di tradisi ini, lamaran ini skalanya ortu cowo ngomong ke ortu cewe (dan kami calon pengantin harus “ngumpet” dulu, ga boleh ikutan ada di ruangan yang sama selama kedua ortu saling bicara). Yang dibicarakan biasanya niatan si cowo untuk menikahi si cewe, tanggal rencana pernikahan (kalau belum sempet dibicarakan sebelumnya), dan apa aja yang ‘diminta’ sama keluarga si cewe in return cewenya ‘diminta’ sama si cowo (ini biasanya ada yang wajib dan nggak, tapi apa yang diminta akan dibawain saat sangjit). Atas nama tradisi, meski calon suami gue udah ngadep ortu gue like way before the wedding day (what other reasons did I have to come to wedding fairs?), lamaran ini tetep dijalankan lagi secara resmi antara 2 keluarga.
  2. Seserahan (sangjit). Kalo seserahan ini tradisi yang identik dengan budaya Indonesia (ga tau di negara Asia yang lain ada atau nggak.. anyone?), tanda penghargaan keluarga cowo akan keluarga, terutama orangtua cewe yang udah membesarkan si cewe. Buat yang masih keturunan Chinese, biasa seserahan ini disebut juga sangjit. Untungnya sekarang ini banyak banget sumber-sumber yang bisa dijadiin referensi (thanks Internet), salah duanya: https://www.weddingku.com/blog/sangjit-a-meaningful-chinese-proposal-tradition dan http://thebridedept.com/tata-cara-prosesi-sangjit/.
  3. Hias kamar ranjang pengantin. Awalnya gue ga tau ini tradisi mana, tapi setelah iseng browsing ternyata hias ranjang pengantin ini adalah tradisi dari China, dan ortu gue sendiri masih ngejalanin tradisi ini, meski sepupu-sepupu gue udah nggak. Nah berhubung filosofi hias ranjang pengantin ini bagus, ya dijalanin juga lah.. jadi biasanya prosesi hias ranjang pengantin ini memang dijalanin 2-3 hari sebelum hari H oleh cewek (bisa nyokap/saudara lain yang lebih tua) yang suami, anak dan cucunya masih hidup. Salah satu referensi yang gue temuin: http://www.chinese-wedding-guide.com/bridal-bed.html.
  4. Hari H. Dibanding nomor 1-3, kayanya nomor 4 ini yang paling banyak diketahui (thanks to Instagram, video same day edit di-upload dimana-mana). Tergantung asal si pengantin, karena even sesama Chinese Indonesia pun bisa beda tradisinya, tapi normalnya seperti ini (yang kami jalanin at least yang kaya gini): pagi-pagi pengantin cowo ngejemput ke rumah pengantin cewe (konon baiknya di malam sebelum hari H, pengantin cowo dan cewe tidak tinggal di bawah satu atap. Ada juga yang bilang, pas hari H, pengantin ga boleh dibiarin ke mana-mana sendirian, alias harus ada yang nemenin. Termasuk pas acara jemput pagi.), makan onde (katanya biar lengket terus sebagai suami-istri), trus baru berangkat bareng ke lokasi acara (dalam hal ini, gereja, untuk pemberkatan).
  5. Pulang ke rumah ortu pengantin cewe. Tradisi yang ini gue baru tau setelah temen gue (cewe) yang tinggal di luar negeri married. Waktu itu, setelah acara hari H, dia ‘pulang’ ke rumah ortu cowo (berhubung rumah mereka sebenernya di luar), dan setelah 3 hari, baru dia pulang ke rumah ortunya sendiri. Konon tradisi ini sebagai simbol bahwa setelah nikah nanti, even si cewe udah ‘diambil’ sama suaminya, dia tetep ga akan lupain ortunya sendiri.

Good luck buat persiapannya! 😀