Burn Baby Burn by Christian Simamora

This is officially my 3rd time pre-ordering Christian Simamora’s novel – I didn’t look after the bonus, but the ability to receive the novel earlier than everyone else. If you’re interested in ordering too, you can follow the publisher’s social media accounts: Twitter or Instagram. This newest novel was released on 22 January 2018 and I finished reading it in 3 days. 😀 I can only give my salute to this guy for releasing a novel with different genre than he normally writes and he’s also out of his J-boyfriend series at the same time (he claims that the story was from the same universe, though).

Gia was an introvert translator/writer who enjoyed staying at home and being careless about how she looked. At the age of 35, she was still single and felt uncomfortable interacting with other human, especially her older sister, Cass. She felt that Cass meddled in her business way too much, complaining about her being single and forcing her to get out of her ‘nest’. Gia felt the opposite about her niece, though. Gadis, Cass’ daughter, got along very well with Gia. They hung out now and then, and their favorite restaurant was The Roux, a creole restaurant.

Kyrian LeRoux, or in short, Ky, was the handsome owner and chef of The Roux. Unquestionably, Gia felt for Ky. Encouraged by Gadis, Gia started her approach to Ky after he called her by name during one of her visit to The Roux. They believed that Ky also had feelings for Gia.

Cass kept warning Gia (and Gadis) that Ky had nothing special for Gia, and that Gia needed to be extra cautious being around him. Instead, both Gia and Gadis confronted Cass. It didn’t take a long time for Gia to be heartbroken: Ky had a girlfriend. The worst of it all was that only when Ky broke up did he find Gia again, confirming Cass’ claim that he only took Gia as a ‘spare tire’.

As always, Christian Simamora never upsets me. In this novel, he proves that he’s matured up his writing skills. I cannot wait to read his other new novels. Good job, Abang! 😀

Advertisements

[in Bahasa Indonesia] Jalan Tol, Jalan Bebas Hambatan (?)

Beberapa bulan terakhir, gue terpaksa nyetir lagi ke kantor, dan on top of that, I spend 39 kIDR each day on toll road. Gue yakin sih gue ga sendirian, karena di kantor gue pun banyak yang kaya gue. Yang gue rada bingung cuma fakta bahwa jalan tol itu ga bebas hambatan lagi (seperti yang dulu selalu diajarin ke gue pas SD).

Keuntungan dari menggunakan jalan tol cuma karena ga ada sepeda motor pengganggu (mau diakui atau nggak, makin kesini makin banyak pengemudi mobil yang ngeluh soal pengendara motor yang suka seenaknya – dan emang bener, baret-baret di mobil gue 90% disebabkan pengendara motor yang seenaknya nyelip-nyelip).

Beberapa hal kurang enak yang gue notice terjadi di jalan tol, berdasarkan pengalaman pribadi (I’m not judging here):

  1. Volume kendaraan yang tinggi bikin jalan tol juga macet, terutama di titik-titik pertemuan beberapa jalur (percabangan).
  2. Bus dan truk di jalur tengah (dan kiri untuk truk bermuatan berat yang bener-bener lambat jalannya) bikin kagok banget buat kendaraan pribadi, jadi kendaraan pribadi rata-rata terpaksa ambil jalur paling kanan, ga peduli jalannya cepet atau lambat.
  3. Mendahului dari jalur sebelah kiri bahkan dari bahu jalan, akibat banyaknya kendaraan pribadi yang ambil jalur paling kanan gara-gara poin nomor 2. Yang, kalo dipikir-pikir, bahaya banget sebenernya, karena di jalur kiri itu resiko tinggi ketemu kendaraan yang jalannya lebih lambat (means rem mendadak kemungkinan ga bisa dihindari).
  4. ‘Pemaksaan’ penggunaan GTO alias pembayaran nontunai itu sebenernya bagus. Gue dukung sih idenya, dengan tujuan ngurangin korupsi para petugas gerbang tol (dari 10x lewat gerbang tol, rata-rata cuma 5x dikasi struknya alias ga jelas yang 5 lagi dikemanain), better records of all transactions, dan (sebetulnya) mempersingkat waktu transaksi karena ga pake kembalian-kembalian. Sayangnya, tujuan yang terakhir ga tercapai karena kenyataannya antrian di gerbang tol malah makin panjang dan lama sejak penerapan GTO. 😀
  5. Bonus dari tarif tol yang hampir tiap tahun naik adalah: jalan yang berlubang di sana sini, bikin maintenance mobil juga naik. Berhubung jalan tol beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, keliatannya ga ada waktu buat memperbaiki jalan yang rusak. Gue pribadi merasa terganggu sih dengan adanya jalan rusak. Saking dalamnya lubang yang ada, pernah knalpot mobil gue sampe kejeduk keras banget.

[in Bahasa Indonesia] Penjara Wanita itu Bernama SMA Santa Ursula

Ini jelas bukan pertama kalinya gue nulis tentang SMA gue yang: Katolik, cewe semua, dan disiplin tinggi. Dan ga pernah bosen-bosennya gue sharing tentang SMA gue ini. Terutama karena Sabtu lalu gue baru aja ke sana lagi untuk ngambil race pack. Weekend ini akan ada event berjudul: Sanur Run For Teachers. Jalan-jalan lagi di sekolah itu otomatis bikin gue balik terkenang masa-masa dulu gue di sana, kaya flashback cepet gitu.

Related image

Belakangan ini, makin banyak sekolah standar internasional di Jakarta ini, dan otomatis sekolah model old school kaya Sanur (yes, we call SMA Santa Ursula ‘Sanur’) makin tenggelam pamornya. Lebih-lebih lagi karena karakter anak jaman sekarang yang cenderung ga mau banget didisiplinkan, sehingga banyak ortu dan anak-anak yang ‘gemetar’ duluan begitu mendengar gimana Sanur di luaran sana.

Gue sendiri bukannya cinta mati sama sekolah gue itu. Really, 3 tahun di sana (untungnya cuma 3 taun, ga kebayang yang udah dari SD ato SMP di sana :P), gue ngalamin segala macem hal yang belakangan ini gue simpulkan sebagai love-hate relationship.

Tahun pertama di sana itu tahun super-shock. Gue yang pas SMP termasuk golongan top 10 di angkatan gue (sombong abis.. maafkan), tiba-tiba aja nyemplung ke sekolah unggulan yang anak-anaknya jauh lebih pinter-pinter daripada gue sehingga gue jadi tergolong biasa-biasa aja. Bahasa Inggris yang gue bangga-banggakan selama SMP, begitu masuk Sanur langsung gue termasuk yang nilainya jongkok karena temen-temen gue pada cas-cis-cus banget ngomongnya. Ulangan harian yang jaman SMP palingan sehari cuma 2 dan PR pun manageable, tiba-tiba aja di Sanur bisa ada 3-4, belum lagi PR-nya yang segunung. On top of that, peraturan sekolah soal seragam juga ketat banget (sering dirazia): blus ga boleh ketat, pake badge Serviam, rok 10 cm dibawah lutut, kaos kaki putih selutut, dan sepatu seragam hitam model pantofel.

Seolah cobaannya belum cukup berat, sekolah gue terpilih jadi salah satu sekolah percobaan kurikulum baru: Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang penilaian murid-muridnya ada 3 kriteria: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif itu penilaian kurikulum konvensional yang cuma menilai kemampuan siswa dari kompetensi akademisnya alias seberapa paham dia akan teori-teori yang diajarkan selama sekolah (dari ujian-ujian), afektif menilai sikap siswa terhadap yang diajarkan, dan psikomotorik menilai seberapa aktif siswa bisa berpartisipasi dalam pembelajaran di kelas. Yang paling berat dari semuanya itu adalah….. syarat nilainya yang ga boleh dibawah 7,5 (dan pas naik kelas 2, syaratnya naik juga jadi 8). Maaann!! Sanur udah cukup berat tanpa syarat nilai, ini pula ditambah. Hello remedial!

Tahun kedua itu tahun hoki karena gue bisa masuk IPA. (Siapa lagi orang gila yang bilang masuk IPA itu hoki? Nilai pelajaran IPS gue pas ambil rapor kenaikan kelas merah, jadi dijamin gue bakal desperate banget kalo sampe gue kecemplung ke IPS.) Yang ga hokinya karena gue ketemu yang namanya pelajaran biologi yang bisa bikin gue gila, dan pelajaran matematika yang gurunya terkenal killer di seluruh jagat raya persanuran (serius, ini guru legendaris banget karena jaman gue SMA udah ngajar di situ 20 tahunan lebih, jadi banyak temen-temen gue yang nyokapnya diajar sama dia juga). Dimulailah tahun penuh air mata gue di Sanur, dimana setiap siang pulang sekolah gue nangis-nangis karena ga sanggup lagi sekolah di sana.

Tahun ketiga, meski masih penuh air mata, tapi gue udah mulai woles. Terutama karena di awal tahun ajaran, guru-guru udah ngumumin bahwa semester kedua cuma bakal dipake buat ‘refresh‘ semua pelajaran yang udah didapet dari kelas 1. Fiuhhh.. semester 1 dikebut abis, tapi begitu masuk semester 2 jadi agak nyantai (you wish! Ulangannya malah makin menggila yang ada). Pas akhirnya lulus ujian akhir itu rasanya legaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget. (Pengennya sih lebih panjang lagi a-nya.)

Image result for santa ursula

Ga tau sih, semua alumni ngerasain hal yang sama apa nggak, tapi inilah hal-hal yang berkesan dan gue syukuri dari sekolah di Sanur:

  • Tiap pagi lari-lari di lorong masuk yang berasa panjang banget karena tas bawaan yang ga pernah santai beratnya, terutama kalo udah kesiangan, soalnya bel masuknya bunyi jam 06.50, bukan jam 7 kaya sekolah lainnya. (Sekarang mungkin udah ga berlaku karena beberapa sekolah masuk jam 06.30.) Trus kalo lari-lari di lorong lantai 2 (SMA letaknya di lantai 2), bakal ditegor guru, jadi terpaksa cuma bisa jalan cepat dengan resiko telat masuk kelas.
  • What I like and affected me the most, dan gue rasa ga semua sekolah ngajarin ini ke murid-muridnya: kepedulian terhadap sekitar. Despite kesupersibukan murid-muridnya, kepsek dan guru-guru selalu ngingetin kami untuk peduli sama sekitar. Kalo ada temen kesusahan, dengan kesadaran sendiri bantu; buang sampah di tempatnya biar ga bikin susah tukang bersih-bersih, hargai sesama makhluk hidup terutama yang lebih lemah daripada kita, consider others sebelum bertindak, even untuk hal-hal kecil, aware sama yang terjadi di sekitar, dan sebisa mungkin jadi yang pertama tau sesuatu langsung dari sumber resminya (papan pengumuman).. hal-hal yang keliatannya kecil tapi sangat bermanfaat buat kehidupan mandiri gue berikutnya.
  • Live-in. Usut punya usut, program live-in ini di-initiate sama Sr. Francesco yang pernah jadi kepala SMA Sanur lumayan lama. Selama seminggu, remaja-remaja kota ini disuruh tinggal di pedesaan buat ‘belajar hidup’. Banyak yang lucu-lucu. Ada yang baru pertama kali liat anak ayam, ketakutan pergi ke kamar mandi sendiri malem-malem (karena rata-rata kamar mandinya kepisah dari bangunan rumah), pertama kali tidur ga pake AC, dan kalo buat gue: pertama kali motong rumput pake arit di ladang, pertama kali panen jagung, pertama kali liat kambing melahirkan, dan pertama kali bersihin sisik ikan. Asli, meski program ini buat gue banyak ga enaknya, tapi sekarang kalo dipikir-pikir banyak juga gunanya.
  • A woman can do anything. Ga ada cowo di sekolah, siapa takut?! Tiap tahun ada acara unggulan OSIS dan gue hobi ikutan jadi panitia. Pas persiapan acara, karena ga ada cowo ya udah ngangkut-ngangkut sendiri, apa-apa sendiri, dan acaranya sukses-sukses aja. Ini pembelajaran jadi mandiri, makanya banyak banget anak Sanur yang berani padahal kami cewe.
  • Time management. Karena jadwal PR dan ulangannya sadis banget, tiap pulang sekolah gue harus langsung nyicil ngerjain PR dan belajar kalo ga mau begadang. Belum lagi kalo pas ada les (untungnya nyokap gue ga akan ngasih anaknya les kecuali emang bener-bener butuh), makin harus pinter bagi waktu deh. Beneran kaya training di camp militer yang segala sesuatunya harus dikerjain seefektif dan seefisien mungkin.
  • Penjara wanita. Ini becandaan yang kayanya emang kenyataan. Sekolahnya full dikerangkeng, terletak di ring 1 RI, (sialnya) ga pernah banjir even musim banjir (karena pawang hujan dari Istana yang konon efeknya sampe ke sekolah) sehingga sekolah ga pernah diliburkan, belajarnya serius banget tapi mainnya lebih serius lagi, paling pelit libur dan paling duluan (ulangan umum selalu mendului sekolah lain tapi liburnya belakangan), dan yang paling penting: isinya cewe semua.
  • Ngajarin cuek. Selain peduli sama sekitar, sekeliling cewe semua juga bikin jadi cuek. Cuek dalam hal penampilan luar ya.. ga gitu peduli penampilan, sikap duduk seenaknya (emangnya kalian kira kenapa cewe Sanur ga pernah bisa duduk dengan lutut rapat meski lagi pake rok?), ngomong ceplas ceplos, dan berani tampil (bermula dari keharusan tampil depan kelas untuk setiap mata pelajaran).
  • Speak up so you’re heard. Pertama kali masuk Sanur, gue masih kebawa sikap selama SMP yaitu diem-diem aja apapun yang terjadi. Dikelilingin cewe-cewe, akhirnya gue pun luluh dan ikutan sikap: ngomong lah kalo ada apa-apa. Ini kebawa sampe sekarang sih, yang kalo ada hal ga beres, gue bakal langsung ngomong dengan gamblang.
  • Pelajarannya susah, tapi jadinya gue nyantai banget pas kuliah semester 1. Ada guru yang juga alumni Sanur dulu bilang: kalian kalo bolos di Sanur rugiii.. soalnya di sini bolos 1 hari sama aja kaya ketinggalan pelajaran 1 minggu di sekolah lain. Ada benernya sih. I’ve tried. Mabok banget pas abis ga masuk sehari. Tapi ya itu, karena pelajarannya susah, jadi pas kuliah gue nyantai abis. FYI, kuliah semester 1 gue itu semuanya ngulang pelajaran SMA (kalkulus, fisika, kimia) dan gue jadi super santai pas temen-temen gue kebat-kebit ngikutinnya.

Buat adik-adik (caelahhh) yang masih galau mau masuk SMA Sanur apa nggak, my advice is take the chance. Ga semua orang berkesempatan masuk Sanur karena emang hanya yang terpilih aja yang bisa masuk (penilaiannya ga cuma dari nilai pelajaran, tapi juga dari nilai psikotest), dan bakal banyak banget pengalaman ga terlupakan selama sekolah di sana. It is indeed a ‘jail’ yang bakal dibenci banget pas ngejalanin dan dikangenin banget setelah lulus.

What a Boss Wants by Christian Simamora

*First of all, I need to say sorry for not being able to write a review about Christian Simamora’s previously released book. Here’s the review of his newest novel titled ‘What a Boss Wants’ which was released early August 2017.

Jiro Amadeus Vimana inherited Toybox, a local toy producer, from his father, Danno Vimana, who has recently become ill. Danno is a Vimana who doesn’t want to use his family’s name and wealth to start a business – instead, he started Toybox with his own blood and sweat. After 1 year of retreat around Asia, Jiro still could not fight the fear he’s had when dealing with the dictator Danno, who wouldn’t listen to whatever Jiro said.

Becoming a toy designer has always been Soleram Anand (Sol)’s dream ever since she was a child. Being a huge fan of Carousel Pony, she practically lived in a fairy tale she’s created for herself. Never had she imagined that she would be working with a very charming and handsome Jiro in Toybox, which honestly had attracted her since her first day of work. Jiro had always been, on the other hand, out of reach for Sol that she didn’t dare dreaming about him.

Shanghai Toy Expo had somehow brought the two people traveling together: the love-skeptical Jiro and the imaginative Sol. Spending one week away from home, the ice between Jiro and Sol melted away..

As expected, Christian Simamora has become more mature in his diction and story plot. The novel is very much enjoyable, making every reader want to keep flipping the pages on and on. Keep up the good work, Bang! 😀

[in Bahasa Indonesia] Penerapan Sekolah 5 Hari

Setelah ditelusuri, ternyata opini untuk menerapkan sekolah 5 hari dengan durasi belajar 40 jam seminggu/8 jam sehari mulai tahun ajaran 2017-2018 sudah lumayan lama juga ya keluar, dan saya baru dengar beritanya tadi pagi di radio saat perjalanan ke kantor. Memang keterlaluan anak satu ini, mentang-mentang sudah lulus dari sekolah jadi tidak care lagi dengan perkembangan dunia pendidikan. *lebay*

Mau ga mau saya jadi bernostalgia soal jam sekolah saya jaman dulu. Kebetulan di Indonesia ini tiap ganti menteri pendidikan (tiap kabinet namanya ganti-ganti, mulai dari mendikbud, mendiknas, sampe balik lagi mendikbud), kurikulum sekolah juga pasti ganti. Otomatis, kebijakan soal cara penilaian siswa sampe buku pelajaran yang dipake pasti ganti (dan sayangnya lagi, jarak umur antara saya dan adik saya pas 5 tahun, jadi orangtua kami ga bisa berhemat secara buku yang saya pake ga bisa dipake lagi sama adik saya).

Masa sekolah paling bahagia itu tentunya TK. Sekolahnya sih memang Senin-Sabtu, tapi sistemnya pagi-siang (tiap bulan ganti), sekolah Senin-Jumat 2 jam 15 menit sehari dan Sabtu 1 jam 30 menit saja. Lanjut SD (yang menurut saya kelamaan, sampe-sampe pas kelas 5 saya udah mulai nanya ke nyokap: kapan lulus ya, lama amat sekolahnya?), kelas 1-2 masih sistem pagi-siang dengan durasi yang lebih lama, Senin-Sabtu 2 jam 30 menit sehari, dan kelas 3-6 sekolah seharian (awal-awal kelas 3 rasanya sekolah itu lamaaaaa banget), Senin-Jumat jam 7.00-12.10 dan Sabtu jam 7.00-11.00. Lulus SD, saya sebenernya pengen lanjut ke SMP di negeri sebelah (alias SMP lain, karena TK-SD saya di sekolah yang sama, jadi bosen ketemu lingkungan dan teman-teman yang itu-itu aja), tapi apa daya kepentok ijin. Waktu itu bokap merasa saya masih terlalu kecil untuk dilepas ke sekolah yang jauh, jadi terpaksa saya lanjut lagi di SMP yang sama. Jam sekolahnya Senin-Jumat jam 7.00-13.30 dan Sabtu jam 7.00-11.00, dengan tambahan ekskul dan bimbingan 1-2 kali seminggu jadi pulang jam 4 sore (saya ga pernah ikut ekskul yang ga wajib karena males pulang sore). Tidak ada kendala yang berarti selama SMP, selain masalah psikologis masa puber yang bikin saya dan teman-teman galau ganjen norak nakal (kalau dilihat dari kacamata saat ini).

Lulus SMP, akhirnya saya diijinkan masuk ke SMA yang saya mau, dengan pertimbangan SMA yang bagus menentukan universitas yang bisa ditembus. Jam sekolah masih sama seperti waktu SMP, juga dengan komposisi ekskul dan bimbingan yang sama. Yang paling berkesan dari masa SMA adalah ternyata SMA saya termasuk SMA unggulan, ga cuma di Jakarta tapi di Indonesia, sampe-sampe kepilih jadi SMA percontohan si kurikulum baru (saat itu, tahun 2002), Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Yang paling berubah dari KBK ini adalah sistem penilaian (dan libur) yang tadinya per caturwulan (cawu)/4 bulanan, jadi kaya anak-anak kuliahan, per semester/6 bulanan, dan nilai di raport tidak boleh dibawah 7,5 (saat kelas 1-2) dan 8 (kelas 12). Ya, sistem kelas pun berubah saat naik dari kelas 2 ke kelas 3, karena saat saya kelas 3, KBK mulai diterapkan di semua sekolah lain di Indonesia (atau baru Jakarta ya?), dan sistem penomoran kelas yang tadinya 1-6 SD – 1-3 SMP – 1-3 SMA, diubah jadi kelas 1-12.

Saya inget banget, saat saya SMA itu, saya tiap hari Senin-Jumat pulang jam 13.30 (KBK ini emang sekolahnya cuma 5 hari seminggu) dan hari Sabtu diisi ekskul, sementara temen-temen di sekolah lain rata-rata pulangnya jam 15.30 dan sebagian hari Sabtu masih belajar juga, dan sebagian besar mereka bilang saya enak banget bisa pulang cepet. Saya sih cuma ketawa aja waktu itu, sambil dalam hati setengah menggerutu: apa enaknya?! Loe enak pulang sekolah sore masih sempet main-main, sementara gue begitu sampe rumah harus buru-buru buka PR dan belajar untuk ulangan. Yes, sekolah saya se-nggak santai itu. Disiplinnya amit-amit, pelajarannya intens banget sampe-sampe mau ijin sakit aja mikir 1000 kali (ga masuk 1 hari = ketinggalan pelajaran jauh banget), jadwal ulangan umumnya selalu lebih cepet seminggu dari sekolah lain dan saat anak sekolah lain sibuk ulangan umum, kami pun sibuk dengan pelatihan-pelatihan yang dirancang sama sekolah buat siswinya (mulai dari pelatihan jurnalistik sampe narkoba udah pernah dijabanin deh), dan pelit banget buat ngasih libur (trust me, even jaman-jaman force majeure macam banjir ato demo gede-gedean pun teteeeepp guru-guru rajin kasih tugas buat dikerjain di rumah.. baru saat itu saya ngerasain ‘belajar di rumah’ as in bener-bener belajar dan ga libur).

Jadi menurut saya, diterapkan atau tidaknya aturan sekolah 5 hari seminggu ini betul-betul tergantung dari sekolah masing-masing. Tujuan utamanya kan katanya biar baik guru maupun murid bisa benar-benar memanfaatkan waktu libur akhir pekan untuk keluarga, tapi ya semua tergantung kebijakan sekolah juga. Kalau sudah ditetapkan 5 hari seminggu 8 jam sehari sekolah, harus dipikirkan juga gimana biar anak-anak ga tertekan, apalagi kalau guru-guru masih membebani dengan PR dan ulangan. Yang ada nanti kualitas pendidikan ga membaik, waktu kualitas dengan orangtua juga ga tercapai, ditambah lagi muridnya stress.

*Semoga kualitas pendidikan Indonesia bisa semakin ditingkatkan lagi, terutama dalam era globalisasi ini, agar para pendidik juga bisa memberikan pandangan yang luas kepada para murid sambil mendorong agar murid mau ikut berpartisipasi aktif dalam mengemukakan pendapat di depan umum.

*Bersyukurlah anak-anak jaman sekarang karena populasi guru killer sudah menurun drastis dibanding jaman saya sekolah dulu.

*Setelah hampir 3 tahun ga nge-blog pake bahasa Indonesia, ternyata kangen juga dan lumayan bisa mengalir lancar tulisannya.

As Seen On TV (ASOT) by Christian Simamora

Last month my sister tagged me in a picture of the novel cover, knowing that I’m a fan of Christian Simamora’s J boyfriend series. I’ve been strolling down every bookstore I see ever since, trying to find the book and finally found it last week. Finished reading it in 4 shots – needed to stop myself from reading due to having to work the next day.

Unlike his other J boyfriend series novels, the cover of this novel is not a guy’s bare chest with six-pack abs. It’s still in line with the theme, though, showing a guy’s body with cropped head. This time the guy’s wearing a tux. 🙂

B0HBFCqCMAEurph

Javier Bungsu Vimana (Javi) has been best friends with Kendra Rey ever since they were kids. Javi is a player specialized in one night stands with pretty girls he meets through dating apps. Being a Vimana (a wealthy clan in this series), he owns (only) a small Russian-themed cafe in a mall, Tolstoy, with Kendra as the operational manager. Just as the saying: “men and women can’t be just friends“, Kendra has had a crush on Javi for a long time, of course without Javi knowing. One weekend, to celebrate her best friend’s engagement, Kendra and Javi had a sleepover at Laura‘s villa in Puncak. Laura’s fiance, Mario, asked Javi during their ‘truth or dare’ game if he would have sex with Kendra. In an instant Javi answered no, because Kendra is undesirable – and this answer broke Kendra’s heart.

Things changed between them – the heartbroken Kendra avoided Javi with all she could and changed her looks before she finally recovered. In an event sponsored by Shylock community in Bandung, Kendra met Orion Sentosa, another rich guy of the story who fell in love with her and finally caught her attention. Long story short, they started dating and this fact finally opened Javi’s mind that he’s jealous of Ken dating another man…

my (and apparently someone else's) favorite quote from the book

my (and apparently someone else’s) favorite quote from the book

You should read the rest of the story yourself – that’s why I’m not continuing my story. In his thirteenth novel, Christian Simamora is getting more mature in his writing, making it even harder (than ever) for me to stop flipping from page to page. The story is typical problem everyone meets when being best friends with a member of opposite sex: you might silently have a crush on your best friend while at the same time you’re not comfortable with the thought of approaching him/her because you don’t want to lose him/her as a best friend, but with additional seasoning of drama which will drag you to some emotional states throughout the story.

Overall, I’m giving 4 out of 5 stars for this book. Good job, Christian Simamora. Waiting for your 14th, 15th, …th novels! 😀

*I scored “Lurah Jboyfriendseries” in the last page’s quiz – I’m a terrible name-recaller – I’d even forgotten the characters’ names of the book I read last month.

Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh by Dee Lestari

I read the novel for the first time back in 2002 during my first year of high school (the book was launched in 2001). I remember liking the novel but had a hard time reading it because of the incomprehensible concept of the story. Long story short, they made a movie out of this novel and by chance I won free tickets, so it’s so me to buy the novel to read it once more before watching the movie.

IMG_3996.JPG

It was told that a couple of 10 years, Reuben and Dimas, thought of creating something different, and they came up with the idea of writing a novel. Reuben the genius, combined with Dimas the romantic, wrote together a novel inspired by a rare sad ending fairy tale about a knight, a princess, and a shooting star (ksatria, putri dan bintang jatuh).

The knight is someone who fell in love so deep with the pretty princess that he took the only chance the shooting star gave him to take him to the princess’s place beyond the sky. When they arrived, the shooting star was also charmed by the princess that in a moment he left the knight alone in the dark and came to the princess himself.

In parallel universe, there was a young executive, Ferre (the knight), who fell in love with a magazine reporter he met by chance, Rana (the princess). Rana was married to Arwin, so it makes things complicated for the two people deeply in love. Then there came Supernova, the Cyber Avatar of the story, who gave people advices, including our Ferre and Rana. After struggling with things, Rana finally decided to come back to her husband, leaving Ferre deeply heartbroken that he didn’t leave his house for 3 full days, making his across the street neighbor, Diva (the shooting star), worried. Diva was a dangerously pretty and smart, independent woman who is not willing to work in any institution – she made her money by giving people ‘services’ and only the services they are paying for. Diva helped Ferre a lot in transforming to be a real knight, and after she’s done, she left.

Overall, I’m giving 4 out of 5 stars for this novel. Even after reading it for the second time, I’m still amazed by how Dee is telling the story. It’s mysterious in a way and genius in other, giving us a different perspective on how to see the world. It’s hard not to flip to the next page as you finish reading one.