[in Bahasa Indonesia] Jangan Masuk ITB

Sudah lama sejak saya post sesuatu di blog ini dalam Bahasa Indonesia, dan jujur saja pemilihan kata saya akan terasa sedikit kaku jadinya, karena sudah tidak biasa menulis dalam bahasa Indonesia (sombong :P).

Saya masih inget banget betapa excited-nya ortu dan keluarga dekat lainnya pas kelas 3 SMA saya memutuskan untuk daftar SPMB (istilah ini berubah-ubah terus dari waktu ke waktu, skarang namanya SNMPTN kalo belum berubah lagi) buat masuk ITB. Saat itu, karna belum ada pendahulu yang bener-bener deket masuk sana, saya juga ikutan excited, dengan bayangan-bayangan indah hasil ‘diracunin’ om saya yang juga lulusan sana (angkatan jebot tapinya). Baru daftar aja udah pada excited, apalagi pas hari pengumuman SPMB dan ternyata saya diterima, girang dan bangganya ortu melebihi saya sendiri.

Masih inget banget hari pertama dateng ke kampus dalam rangka OSKM (Orientasi Siswa Keluarga Mahasiswa), di gerbang kampus ada spanduk dengan tulisan gede-gede: SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI TERBAIK BANGSA. Wow. Baru hari pertama aja udah dibikin gede kepala dengan tulisan begitu. Lalu ada lagi lambang ITB yang kayak begini (harusnya udah familiar ya..):

itb-logo
Kalo kata temen saya: ini menggambarkan kehidupan anak ITB. Titik di atas huruf i dibuat lingkaran gede, melambangkan mahasiswa baru di ITB besar kepala semua karna berhasil masuk kampus yang konon katanya seleksinya susah (well, terbukti juga dengan nyebut kami ini ‘putra-putri terbaik bangsa’, padahal ga semuanya jadi yang terbaik kan). Setelah di dalem, terjadilah si huruf t yang kurus kering. Karna kuliahnya susah dan susah lulus juga, mahasiswa jadi krisis pede dan kurus kering karna stress. Begitu ‘lolos’ (ini becandaan wajar anak ITB), beberapa tahun kemudian kami jadi b, alias bapak-bapak (karna 75%-nya mahasiswa) berperut buncit yang pada jadi bos.

Sepanjang 4 tahun atau lebih, sejak masuk kuliah sampe akhirnya lulus (yang, by the way, bener-bener susah – perkataan orang bahwa di ITB itu “susah masuk susah lulus” itu bukan isapan jempol belaka), dosen-dosen dengan semangat selalu bilang ke mahasiswa bahwa “kalian ini anak-anak terpilih yang berhasil masuk ITB, kalian sudah jadi anak-anak terbaik di Indonesia”. Tujuannya ya biar kami pede, meski sebenernya di dalem kami “berdarah-darah” karena kuliahnya susah dapet nilai bagus, berakibat IP rendah, dan ujung-ujungnya jadi ga pede sama diri sendiri, apalagi pas ketemu sama temen-temen dari universitas lain.

Setelah lulus S1, biasanya kami pun terbagi jadi 3 golongan: golongan idealis-seriusis yang dengan semangat langsung daftar-daftar S2, golongan sok idealis-sok serius (seperti saya) yang langsung daftar S2 tapi dengan kesadaran tinggi bahwa IPK jelek sehingga dengan rendah hati diri cari-cari kerja juga, dan golongan realis-pesimisis yang udah ga kepikir lagi buat lanjut S2 dan langsung mo cari duit aja. Entah kebetulan entah tidak, saya perhatikan, antara teman-teman yang lulusan ITB juga dengan lulusan universitas lain (tidak terbatas pada universitas swasta saja), kami-kami dari ITB sulit sekali dapat kerja. Entah kebetulan entah tidak juga, karena jurusan saya lumayan langka perempuan (perbandingan mahasiswa:mahasiswi per angkatan = 11:1) dan kalau kerja di bidang itu pun sulit untuk perempuan, kesulitan ini lebih tinggi untuk yang perempuan. Beberapa teman perempuan yang tadinya mau jadi golongan 3 terpaksa jadi golongan 1 atau 2, dan sukses dapet beasiswa ke luar negeri (dan sukses juga kerja di negara sana, yang lebih terbuka nerima perempuan untuk kerja di bidang ini).

people

Untuk adik-adik yang masih atau baru lulus SMA dan punya mimpi masuk ITB, saya sarankan:

  • Siap belajar mandiri semasa kuliah. Mandiri ga berarti belajar sendiri-sendiri, karena kadang materi kuliahnya padat, jadi akhirnya kita belajar bareng. Mandiri ini dalam artian, dosen itu ga selalu “nyuapin” mahasiswanya, kita harus kreatif nyari bahan belajar sendiri. Kenalan sama senior juga berguna, tuh, untuk dapet bocoran mengenai karakter dosen-dosen. Karena joke ini bener-bener terjadi.

funny-engineering-class-homework-exam-have-fan

  • Tau mau kerja dimana setelah lulus S1. Saya bahkan bilang ke adik saya sebelum dia ikut SNMPTN beberapa tahun lalu, kalau mau kerjanya di perusahaan swasta, sebaiknya kuliah di universitas lain saja, karena bisa dapet jurusan yang lebih bagus dengan nilai yang bisa lebih bagus juga. Kecuali memang punya cita-cita kerja di BUMN.
  • Atau memang sudah punya cita-cita untuk lanjut kuliah S2. Ada 1-2 orang dosen yang semasa kuliah selalu bilang bahwa kalo S2 itu HARUS ke luar negeri, karena di sana kita belajar lebih banyak daripada kalau kita cuma di dalam negeri. Setelah merasakan sendiri S2 di luar negeri, saya harus setuju dengan mereka. Saya sangat bersyukur kuliah S1 di ITB, karena pas akhirnya kuliah di luar, saya sudah terbiasa baca textbook bahasa Inggris dan belajar mandiri, sehingga ga kesulitan mengejar materi kuliah.

Akhir kata, saya mau bilang: jangan masuk ITB kalau kalian tipe yang mudah nyerah dan bukan tipe high achiever. Memang susah masuk dan susah lulus, tapi saat akhirnya berhasil masuk dan berhasil lulus, berapa tahun pun kuliahnya, bangganya luar biasa. Ortu pun pasti bangga sekali punya anak yang bisa kuliah di sana. 😀

Advertisements

3 thoughts on “[in Bahasa Indonesia] Jangan Masuk ITB

  1. maaf, sebaiknya judulnya dilengkapi “[Dengan Bahasa Indonesia]”.. karena “bahasa” itu bukan berarti bahasa Indonesia.. hanya “language” saja..

    Jangan membiasakan sesuatu yang salah. 🙂

    anyway, good writing!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s