kaya

Happy [rainy, misty, gloomy, cloudy] Saturday morning!! 🙂 It appears that I [again] didn’t keep my promise to update this blog every single day.

Kemaren gue baru aja ngobrol-ngobrol (dan berkhayal) dengan temen gue tentang punya seorang cowo/suami yang tajir mampus sehingga kami ga perlu repot-repot kerja, dan bisa naik-turun mobil setiap hari. Hahahaha.. selalu menyenangkan ngobrolin dan berkhayal kayak gitu. However, meski gue berkhayal begitu, gue ga pernah suka sama orang yang terlalu kaya.

Kaya itu ga cuma diukur dengan banyaknya harta yang dipunyai kan, bisa juga dari segi rohani dan banyak hal lainnya. Dan gue bener-bener ga pernah suka sama orang yang terlalu kaya. Saat orang itu kaya, dia masih punya kesadaran akan dunia luar, dia masih bisa ngeliat dunia di sekitarnya dan rela berbagi dengan yang kekurangan karna dia sadar sepenuhnya bahwa dia “berlebih”, tanpa kesombongan. Naahh saat dia terlalu kaya, dia ud kewalahan dengan dirinya sendiri sehingga ga sempet lagi ngeliat kondisi di luar dirinya. Dia berbagi tapi yang dibagikan pun jadinya berlebihan sehingga ga bagus buat orang yang dapet.

Contoh, pas konglomerat bagi-bagi duit ke orang miskin, dia bisa aja mikir: “Bagi banyakan aja deh, toh gue juga berlebih dan orang ini malah kekurangan.” tanpa mikirin si orang miskin ini secara psikologis bakal kayak gimana setelah nerima duit berlebih. Bisa aja si orang miskin, karna ga biasa pegang duit banyak, malah make duit itu buat judi ato hal-hal buruk lainnya.

Begitu juga kalo orang terlalu kaya iman. Kalo kaya iman itu bagus, karna artinya kita bisa menjalankan kewajiban agama dengan sebaik-baiknya *ngaku dosa, gue adalah orang yang sangat miskin dalam hal ini*, tapi saat orang terlalu kaya? Bencana. Seenggaknya buat gue ya. Orang yang terlalu kaya iman itu sering [bukan berarti ga ada yang nggak ya] cuma ngeliat segala sesuatu dari sisinya doang. Dia pun berbagi ke orang yang sebenernya beda keyakinan ato ga mau denger sama sekali. Kekayaannya jadi sia-sia karna itu.

Tambahan lagi, manusia adalah makhluk yang ga pernah puas. Sekali berhasil dapet banyak, pasti mau lebih lagi lebih lagi lebih lagi….. jadi mending jadi orang yang cukup aja deh. Seenggaknya saat kita merasa tidak puas, kita masih ada banyak ruang untuk memperkaya diri. 😛

Advertisements

6 thoughts on “kaya

  1. Lho lho, keimanan seseorang ga bisa diukur oleh manusia, hanya Tuhan yang tahu. 😐
    Jadi, gak ada istilah “kaya iman”, karena kita ga tahu sebanyak apa keimanan seseorang.

    Like

    • betoel.. tapi entah kenapa ada aja orang-orang yang ngerasa dirinya “kaya iman” karna rajin beribadah dkk. emg ga semua orang sih, tapi akhir-akhir ini sindromnya makin merebak. 😦

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s