anak mbak

Ada satu frase yang akhir-akhir ini lumayan sering gue denger dari ade gue dan selalu bikin gue ketawa: anak mbak. Perkataan itu bisa muncul dari dia karna mengamati tingkah laku ibu-ibu muda jaman sekarang. Kawin muda kan lagi musim yah, jadi yang cuma sedikit lebih tua ato bahkan seumuran sama gue banyak yang udah nikah, tapi jadinya keluarga itu belum mapan secara ekonomi, masih perlu suami-istri bekerja. Alhasil anak-anaknya terlantar, yang ngejagain sehari-hari adalah mbak alias pembantu atau babysitter.

Terakhir kali gue denger kata itu dari mulut ade gue adalah minggu lalu pas kami berdua makan bareng di Pomodoro *promosi, liat di blog gue yang satunya lagi, clickΒ on the word Pomodoro* dan menyaksikan seorang ibu muda asik ngumpul sama temen-temennya yang kurang lebih seumuran, membiarkan anaknya yang mogok makan dibujuk-bujuk dan dijagain sama si mbak. πŸ˜› Yaa mungkin ada beribu alesan selain “belum mapan secara ekonomi” untuk menggunakan jasa babysitter, tapi tetep aja jadinya gue berprasangka buruk. Kalo emang belum siap ngejagain anak sendiri, ya jangan punya anak. Sesimpel itu.

Mungkin pikiran gue yang terlalu konvensional ya, tapi gue adalah orang yang selalu berpendapat akan lebih baik kalo seorang anak dibesarkan sendiri oleh orangtuanya. Gue dari bayi ampe sekarang dirawat sendiri sama nyokap, dan gue jadinya suka rada kasian sama temen-temen gue yang dibesarkan sama mbak. πŸ˜› Mereka jadinya kurang akrab sama orangtuanya dan kurang diperhatiin juga.

Promise to self: not to make my kids “anak mbak”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s