love yourself

Belum pernah gue bahas ya ternyata tentang buku Eat, Pray, Love karangan Elizabeth Gilbert yang baru selese gue baca beberapa minggu yang lalu [padahal belinya udah dari Januari :P], padahal berkat menceritakan isi buku itu pas interview di salah satu perusahaan IT, gue diterima [bukan di tempat gue sekarang]. 😀

Pas interview itu, gue ditanya, jenis buku apa yang gue suka baca, dan gue jawab gue suka buku apa aja asal bukan romance [ya, for someone who’s a drama queen like me, I don’t read romance. B-O-R-I-N-G]. Lantas si user [ini udah interview tahap kedua *pamer*] bertanya, buku apa yang saat ini sedang gue baca, dan gue jawab Eat, Pray, Love by Elizabeth Gilbert [interview-nya dalam bahasa Inggris, kewalahan deh gue jawabnya :P].

Sebenernya apa sih isi buku itu?

Cuma tentang seorang wanita [Elizabeth Gilbert herself] yang sedang patah hati karna dikecewakan berkali-kali, terpuruk dalam kesedihan sampe akhirnya memutuskan buat meninggalkan tanah airnya di Amerika Serikat untuk “berlibur” selama setahun, menenangkan diri. ChapterEat” menceritakan perjalanannya selama 4 bulan di Italia, di mana dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memuaskan fisiknya dengan makan. Hasilnya? Dia yang selama depresi menjadi sangat kurus berhasil menaikkan berat badannya beberapa kilo. ChapterPray” menceritakan pengalamannya tinggal dalam sebuah ashram di India, semacam tempat “pengasingan” bagi orang-orang yang ingin bermeditasi dan menemukan ketenangan batin. Di sinilah dia berhasil menenangkan diri pasca depresi, dia tidak lagi mimpi buruk dan bisa bermeditasi [tadinya ga bisa karna meditasi perlu pikiran yang tenang dan dia selalu dihantui pikiran-pikiran buruknya sendiri]. Chapter terakhir, “Love” menceritakan perjalanannya selama 4 bulan di Bali, di mana dia menemukan kecintaannya pada tanah Ubud yang indah, sekaligus menemukan guru spiritual dalam sosok seorang kakek tua dukun kampung [di bukunya disebut healer]. Di sini juga dia bertemu cintanya yang baru.

Ada satu kalimat sangat bagus yang dia tulis di sana [chapter terakhir]: “I love you, I will never leave you, I will always take care of you.” Itu adalah kalimat yang selalu dia katakan ke dirinya sendiri segera setelah dia menemukan ketenangan batin dan cinta [tercetus di Bali]. Kalimat itu jugalah yang memberinya kekuatan, kekuatan pada dirinya sendiri, sekaligus menyatakan bahwa dia sangat mencintai dirinya sendiri.

Well well, bener kan kata orang, kita harus bisa mencintai diri kita sendiri sebelum mengharapkan orang lain mencintai kita.

*Met puasa bagi yang menjalankan. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s