the glue of…

Akhir-akhir ini sibuk, jadi baru sempet ngupdate lagi sekarang *sok-sokan, padahal trakir ngupdate juga baru 2 hari yang lalu*. Sebenernya lagi ga ada topik, tapi tiba-tiba gue inget, 3-4 hari yang lalu gue ngasi komen di blognya temen gue si Bencong. Judul post-nya “Friendship Heart-ed“, ngebahas tentang betapa malasnya dia mengurusi teman-teman, dan dia lebih baik sendirian saja, blablabla. Satu kalimat paling “nendang” [yang bikin gue komen] adalah saat dia bilang dia ngerasa akan sangat sakit hati peduli sama orang-orang yang kita pikir peduli juga sama kita padahal kenyataannya nggak.

Gue komen gini: Tapi Dei, kalo misalnya ga ada orang yang bergerak, ga bakal bertahan dong temenannya. [Ga persis kayak gini tapi intinya begini..] Yang dia bales dengan: Yes, that’s why you’re the glue of your friends. Whew.. sedikit banyak gue merasa senang dan bangga lho dia bilang gitu ke gue. Masalahnya, kemarennya gue berdebat lumayan panjang sama dia di Messenger soal penting-nggaknya mempertahankan dan menghubungi dan ngumpul-ngumpul sama temen-temen lama [tentu, dia mempertahankan pendapat bahwa itu ga penting dan gue mempertahankan pendapat bahwa itu penting].

Setelah dipikir-pikir, dalam setiap kelompok orang itu emang harus selalu ada “glue“-nya. Dalam keluarga kita punya entah bokap ato nyokap yang selalu berinisiatif ngadain acara keluarga bareng tiap weekend, dalam geng pasti ada satu “pemimpin” yang selalu mengumpulkan “anak buah”-nya untuk berkegiatan bareng, dalam satu organisasi pasti ada “biang kerok” yang kerjaannya ngajakin anggotanya untuk ngumpul-ngumpul dan bikin keributan [as if.. :P]. Yang normal dan manusiawi itu justru orang-orang yang males jadi “glue“. Gue sendiri ngerasa super GR pas Dei bilang gue adalah “glue“, karna pada dasarnya gue adalah manusia pemalas yang pasrah aja dengan keadaan.

Ga jarang lho, di tengah usaha gue mempersatukan orang-orang itu gue ngambek [atau pundung, kalo kata orang Sunda], berusaha mengalihkan kerjaan itu ke orang lain ato dengan seenak jidat membatalkan janji temu. Kadang cape sendiri ngatur orang-orang yang berbeda wataknya, dan sakit hati juga karna mereka ga ngerti gmana rasanya jadi kita. Tapi lantas gue mikir debat yang gue lakukan dengan Dei itu, bahwa kalo ga ada “glue“, maka berakhirnya pertemanan dengan banyak orang, dan gue ga pengen pertemanan yang udah gue jalin selama bertahun-tahun ilang begitu aja. πŸ™‚

Advertisements

2 thoughts on “the glue of…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s