kejujuran

Hari ini, infotainment dihebohkan dengan pernyataan dari seorang artis yang uda ampir sebulan terakhir jadi bahan pembicaraan karna hal yang ga enak. [Setelah gue ingat-ingat, gara-gara ngomongin suaminya lah gue dan temen-temen gue jadi ngomongin tentang gay tempo hari itu.] Setelah hampir sebulan ini menentang dan sempet nangis bombay di depan wartawan, akhirnya si artis mengaku bahwa memang dirinya lah yang ada dalam video skandal itu.

Tau apa pendapat gue?

Kejujuran jauh lebih baik. Heran deh gue, kenapa sih orang-orang makin dewasa dan makin dikenal orang malah makin hobi bohong? Kalo bohongnya masi bohong untuk kebaikan sih gapapa, tapi kalo bohongnya malah bikin cape sendiri, mending ngaku aja tentang kejujurannya. Toh kalo kasus kayak gini, setelah dia ngaku ya orang udah ga penasaran-penasaran lagi. Mungkin ada lah yang masi ngomongin, tapi ya udah, lama-lama juga reda sendiri. Daripada ga ngaku ato bohong, masalah malah jadi berlarut-larut. Bukan cuma wartawan dan orang-orang yang ga kenal dia yang bertanya-tanya, tapi pihak keluarga pun tentu bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi?

Gue tipe orang yang sangat mudah percaya sama orang di sekitar gue [sekali lagi gue katakan, plis jangan manfaatin gue..]. Akrab dan curhat-curhat dikit aja bisa bikin gue percaya sama orang itu. Jadi gue percaya, kalo tiba-tiba beredar rumor buruk tentang gue, setidaknya gue punya keluarga dan teman-teman dekat gue yang masi bakal percaya dan mendukung gue, seburuk apapun tindakan yang gue lakukan. Yang namanya manusia [kecuali Yesus ya] ga ada yang bebas dari dosa kok. Tergantung gimana aja kita ngeliat dan menyikapinya. Mau jadi orang munafik yang demi ikut-ikutan orang jadi menghujat pihak yang dipersalahkan atau mau jadi orang jujur yang mengakui dan memberi kesempatan bertobat pada orang lain?

Naif? Ya. Idealis? Ya.

Itulah gue.

Satu hal lagi yang menginspirasi tulisan ini: acara “Uya Emang Kuya”. Awalnya gue sangat ga suka karna acara itu seolah melanggar privasi orang; dia menanyakan masalah pribadi orang yang dihipnotis di depan orang banyak, memaksa orang tersebut menjawab pertanyaan secara jujur. Tapi lama-lama gue jadi suka juga, toh udah dengan izin orang yang bersangkutan juga si video ditayangkan. Lucu aja, dalam kesadarannya, orang sering berbohong, tapi saat akhirnya kejujuran terkuak, segala sesuatu seringnya menjadi lebih baik.

Pada masa puber gue, gue sering boong. Boong sama bokap soal mo pergi cuma dikitan [jaman itu gue cuma bole pergi kalo ada minimal 5-6 orang peserta], boong sama nyokap soal macem-macem [terlalu banyak untuk disebutkan :P], boong sama temen-temen juga… Ga boong besar sih, jadi jangan merasa tertipu ya 😀 Cuma makin ke sini, gue makin jarang boong. Gue mikir [dan selalu dibilangin juga pas jaman SMA], apa gunanya sih boong? Yang ada malah menambah rasa bersalah aja. Ada situasi tertentu yang mengharuskan kita berbohong, dan sebagai manusia yang udah dewasa, harusnya kita bisa menyortir secara bijaksana saat dan situasi yang tepat untuk berbohong, bukannya berbohong sepanjang waktu.

Hasilnya? Ya.. gue malah jadi ga bisa boong sama sekali sekarang. =.= Boong dikit aja langsung merasa bersalah. =.= Gmana dong??!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s